Mudah-mudahan tiada halangan !Permohonan
maaf hamba ke hadapan arwah para leluhur yang disemayamkan dalam wujud
Ongkara dan selalu dipuja dengan hati suci. Dengan memuja dan memuji
kebesaran Sanghyang Siwa semoga penulis terhindar dari segala kutukan,
derita, cemar, duka-nestapa, dan halangan lainnya. Mudah-mudahan tujuan
hamba yang suci ini berhasil serta bebas dari dosa-dosa karena
menguraikan cerita leluhur di masa lampau, semoga direstui sehingga
mendapat kejayaan, keselamatan, keabadian, panjang usia, sampai dengan
seluruh keluarga turun temurun.
Baiklah kisah ini saya mulai :
Majapahit yang dipimpin Raja Putri : Sri Ratu Tribhuwanottunggadewi Jayawisnuwardhani bersama Patih Agung : Gajah Mada berhasil menguasai Kerajaan Bali Aga yang di pimpin oleh Raja : Paduka Bathara Sri Asta Asura Ratna Bumi Banten (dikenal dengan nama : Bedahulu) dengan Patih : Ki Pasung Grigis dan Ki Kebo Iwa, pada tahun 1343 M atau isaka 1265.
Pimpinan Pemerintahan sementara diserahkan kepada Mpu Jiwaksara yang kemudian bergelar Ki Patih Wulung. Beliau menempatkan pusat Pemerintahan di Gelgel. Walaupun Bali sudah dikalahkan Majapahit, tidak berarti rakyat dan tokoh-tokoh militer Bali Aga sudah menyerah. Mereka terus mengadakan perlawanan di bawah tanah, dan sekali-sekali muncul ke permukaan, misalnya pemberontakan yang dipimpin oleh Ki Tokawa di Ularan, dan Ki Buwahan di Batur.
Setelah tujuh tahun barulah pemberontakan-pemberontakan dapat dipadamkan, namun rakyat Bedahulu masih belum mau menerima kehadiran “si-penjajah” sepenuh hati. Melihat keamanan sudah membaik dan Pemerintahan sudah dapat berjalan sebagaimana mestinya, maka pada tahun 1350 M atau 1272 isaka, Ki Patih Wulung berangkat ke Majapahit untuk menghadap Sri Ratu. Tujuannya adalah melaporkan situasi di Bali dan memohon penunjukan seorang Raja di Bali Dwipa.
Atas saran Patih Agung Gajah Mada, pada tahun itu juga dilantiklah empat orang Raja, putra-putri Sri Soma Kepakisan, untuk memimpin kerajaan-kerajaan yang sudah ditaklukkan, yaitu : Sri Juru, menjadi Raja di Blambangan, Sri Bhima Sakti menjadi Raja di Pasuruan, Sri Kepakisan (putri) menjadi Raja di Sumbawa, dan Sri Kresna Kepakisan menjadi Raja di Bali Dwipa.
Dalem Ketut kemudian bergelar Dalem Sri Kresna Kepakisan, mulai memimpin Pemerintahan Kerajaan Bali Dwipa pada tahun 1350 M atau 1272 isaka. Oleh penduduk Bali beliau disebut sebagai I Dewa Wawu Rawuh. Ibu kota Kerajaan dipindahkan dari Gelgel ke Samprangan (Samplangan). Ki Patih Wulung menjabat sebagai Mangku Bumi.
Dalem Sri Kresna Kepakisan beristri dua, yaitu yang pertama : Ni Gusti Ayu Gajah Para, melahirkan : Dalem Wayan (Dalem Samprangan), Dalem Di-Madia (Dalem Tarukan), Dewa Ayu Wana (putri, meninggal ketika masih anak-anak), dan Dalem Ketut (Dalem Ketut Ngulesir). Istri yang kedua : Ni Gusti Ayu Kuta Waringin, melahirkan : Dewa Tegal Besung.
Dalem Sri Kresna Kepakisan moksah pada tahun 1373 M atau 1295 isaka. Beliau digantikan oleh putranya yang tertua yaitu Dalem Wayan, bergelar Dalem Sri Agra Samprangan. Beliau memerintah secara sah sampai tahun 1383 M atau 1305 isaka, kemudian beliau digantikan oleh adiknya yaitu : Dalem Ketut Ngulesir, bergelar Dalem Sri Semara Kepakisan, memerintah sejak tahun 1383 M atau 1305 isaka sampai tahun 1460 M atau 1382 isaka. Ibu kota Kerajaan dipindahkan dari Samprangan ke Gelgel yang diberi nama baru : Sweca Pura.
Di awal pemerintahan Dalem Sri Agra Samprangan (tahun 1373 M atau 1295 isaka) terasa situasi di Puri Samprangan memburuk, yaitu adanya upaya mengadu domba Raja dengan adik-adik beliau yang dilakukan oleh para Menteri dan pembantu dekat Raja.
Untuk menghindari pertengkaran, maka kedua adik Raja yaitu Dalem Di-Madia dan Dalem Ketut, memilih tinggal di luar istana. Dalem Di-Madia membangun istana dan bermukim di Desa Tarukan, Pejeng, oleh karena itu beliau bergelar : Dalem Tarukan. Dalem Ketut, tidak menetap. Beliau berpindah-pindah dari satu Desa ke Desa lain, menyamar sebagai penjudi ayam aduan; penduduk lalu menjuluki beliau : Dalem Ketut Ngulesir.
Selain untuk menghindari pertengkaran, beliau berdua juga bermaksud menyelidiki dukungan rakyat Bali (Bali-Aga) terhadap pemerintahan Samprangan serta mengadakan pendekatan dengan rakyat. Ide Bethara Dalem Tarukan memilih Desa Tarukan di Pejeng sebagai istana, karena dekat dengan rakyat Bedahulu yang sebahagian besar masih belum mengakui pemerintahan Samprangan.
Sementara itu pergolakan di Puri Samprangan makin memanas, ditandai dengan pemberian julukan yang tidak pada tempatnya kepada Raja, di mana Dalem Sri Agra Samprangan diberi julukan Dalem Ile (Ile=gila), Dalem Tarukan dinyatakan “rangseng” (=gila karena marah), dan Dalem Ketut dinyatakan sangat suka berjudi, khususnya mengadu ayam.
Julukan tidak pada tempatnya yang diberikan kepada para Raja itu sangat bertentangan dengan ajaran agama Hindu yang senantiasa mengajarkan penghormatan tinggi kepada Pemimpin Pemerintahan. Penghinaan kepada Raja itu jelas fitnah, karena jika benar adanya, pasti Maha Raja Majapahit dan Maha Patih Gajah Mada tidak akan tinggal diam. Tindakan pemecatan atau penggantian Raja pasti dilakukan. Selain itu, jika julukan itu benar, para musuh yaitu rakyat Bedahulu akan mempunyai peluang yang baik untuk menggulingkan Pemerintahan Samprangan.
Setelah selesai membangun Puri, Dalem Tarukan menikahi seorang Bidadari dari Gunung Lempuyang. Karena belum mempunyai putra, beliau mengajak kemenakannya, yaitu cucu Dalem Wayan, Raja Blambangan, bernama : Kuda Penandang Kajar untuk tinggal bersama-sama di Puri Tarukan.
Kuda Penandang Kajar adalah seorang pemuda yang tampan, gagah dan mempunyai kekuatan batin yang tinggi, khusus untuk meneliti apakah tanah ada kandungan emasnya atau tidak. Karena itulah Puri Tarukan sangat mewah dan terkesan kaya raya karena dipenuhi ornamen emas murni. Dalem Tarukan sangat menyayangi kemenakannya.
Pemerintahan Samprangan di ambang kehancuran, karena tidak adanya dukungan dari para Menteri dan pembantu Raja. Dalem Wayan merasa perlu memanggil adik beliau yaitu Dalem Ketut untuk diajak kembali tinggal di Puri Samprangan. Maksudnya agar Dalem Ketut turut membantu beliau menyelenggarakan pemerintahan.
Perbekel Kaba-Kaba diutus beliau untuk menjemput Dalem Ketut ke Desa Pandak, tetapi Dalem Ketut menolak karena beliau merasa belum mampu memimpin kerajaan di Samprangan. Jika Samprangan telah dipenuhi oleh para menteri dan pembantu Raja yang tidak setia, apakah beliau akan dapat memimpin dengan baik ?
Sementara Dalem Ketut mencari jalan keluar memecahkan masalah ini, datanglah Kuda Penandang Kajar sebagai utusan Dalem Tarukan memohon Dalem Ketut pulang untuk memimpin Kerajaan Samprangan. Dalem Tarukan sendiri tidak berniat menjadi Raja, karena beliau lebih tertarik kepada profesi kepanditaan. Pesan lain yang disampaikan Kuda Penandang Kajar adalah, jika Dalem Ketut berkenan, beliau dibolehkan menggunakan istana Tarukan.
Walaupun penjemputan kali ini penuh penghormatan dan kemewahan, misalnya dengan kuda tunggangan istimewa bernama I Gagak dan sebuah keris milik Dalem Tarukan yang bernama I Pangenteg Rat, Dalem Ketut tetap menolak permintaan kakaknya itu, sekali lagi dengan alasan belum mampu memimpin atau menjadi Raja.
Kecewa karena tugasnya tidak berhasil, Kuda Penandang Kajar kembali ke Tarukan dengan lesu. Di perjalanan beliau disambar burung gagak hingga destarnya jatuh. Sesampainya di gerbang istana Tarukan, dilihatnya puncak gelung kuri terpenggal. Hanya Kuda Penandang kajar yang melihat demikian, sementara para pengiringnya tidak melihat puncak gelung kuri itu terpenggal. Pertanda buruk ini terkesan mendalam di hati Kuda Penandang Kajar, sampai-sampai beliau jatuh sakit. Dalem Tarukan prihatin pada sakit yang diderita kemenakannya ini.
Sementara itu tersiar berita yang mengagetkan, bahwa para panglima perang Samprangan merencanakan memerangi Kerajaan Blambangan. Dalem Tarukan tidak setuju dengan rencana itu, mengingat bahwa Dalem Blambangan yaitu ayah Kuda Penandang Kajar, masih saudara sepupu beliau. Dalem Tarukan berpendapat bahwa rencana itu mempunyai latar lain, mungkin saja gerakan merebut kekuasaan, yaitu bila prajurit dikerahkan ke Blambangan, Dalem Wayan akan mudah digulingkan.
Dalem Tarukan cepat mengambil inisiatif untuk mengikat tali persaudaraan antara Samprangan dengan Blambangan yaitu dengan menikahkan Kuda Penandang Kajar dengan putri Dalem Wayan, bernama I Dewa Ayu Muter. Dengan ikatan tali persaudaraan itu, perang dapat dicegah. Sakitnya Kuda Penandang Kajar menjadi suatu jalan untuk memohon restu para Dewata. Jika Dewata mengijinkan pernikahan ini, kesembuhan Kuda Penandang Kajar menjadi suatu batu ujian. Pertimbangan lain, Dalem Tarukan melihat bahwa Kuda Penandang Kajar sudah cukup dewasa, dan dari gelagat sehari-hari nampaknya tertarik kepada I Dewa Ayu Muter.
Terucaplah tegur sapa Dalem Tarukan kepada Kuda Penandang Kajar : Duhai anakku, segeralah sembuh; ayah berkeinginan mengawinkan anak dengan I Dewa Ayu Muter.Ternyata permohonan Dalem Tarukan kepada para Dewata terkabul. Kuda Penandang Kajar segera sembuh dan sehat seperti semula. Tentu saja Dalem Tarukan sangat bergembira. Kini beliau merencanakan mewujudkan perkawinan kedua muda-mudi itu.
Untuk meminang tentu saja tidak mungkin, karena posisi Dalem Wayan sangat lemah. Beliau hampir tidak dapat memutuskan sesuatu. Semua keputusan diambil oleh para Menteri. Akhirnya dilaksanakanlah perkawinan secara adat kawin-lari. Awalnya perkawinan itu berjalan lancar, sampai pada malam hari terjadi hal yang merupakan akhir dari keberadaan Puri Tarukan. Kedua mempelai yang sedang berbulan madu di peraduan, tewas berbarengan tertusuk senjata keris. Seorang abdi perempuan pengasuh I Dewa Ayu Muter di Puri Samprangan melaporkan secara tergesa-gesa kepada Dalem Wayan bahwa putri beliau satu-satunya yaitu I Dewa Ayu Muter, semalam telah tewas di Puri Tarukan terbunuh oleh Ki Tanda Langlang. Dalem Wayan tentu saja sangat terkejut dan segera memanggil para menterinya. Seorang panglima perang menyampaikan ceritra yang lengkap, serta memperkuat keyakinan Dalem Wayan bahwa putri beliau bersama-sama Kuda Penandang Kajar benar telah tewas ditikam Ki Tanda Langlang.
Betapa murkanya Dalem Wayan setelah mendapat penjelasan para Menterinya itu. Segera disuruhlah memukul kentongan dengan suara “bulus” sehingga para prajurit segera berkumpul di halaman istana. Di saat itu Dalem Wayan memerintahkan pasukan Dulang Mangap yang dipimpin Panglimanya Kiyai Parembu, menyerang menghancurkan Puri Tarukan serta menangkap Dalem Tarukan hidup atau mati. Dengan bersorak gegap gempita pasukan itu bergegas menuju Puri Tarukan.
Kini diceritakan Ide Bethara Dalem Tarukan di Puri Tarukan. Betapa sedih dan terkejutnya beliau menyaksikan nasib yang tragis menimpa putra kesayangannya bersama menantunya yang meninggal di kamar pengantin justru pada malam pertama yang seharusnya berkesan sangat bahagia. Beliau sadar bahwa kejadian ini adalah puncak upaya yang sangat keji dari orang-orang yang ingin menguasai kerajaan Samprangan. Beliau ingin menyelesaikan masalah ini melalui pembicaraan dengan kakak beliau, tetapi nampaknya keadaan sudah tidak memungkinkan lagi karena Dalem Wayan sudah termakan fitnah. Terdengar pula berita bahwa pasukan Dulang Mangap sedang menuju Puri Tarukan untuk menangkap beliau dan menghancurkan Puri Tarukan.
Di saat yang berbahaya itu beliau cepat berpikir dan kemudian dikumpulkanlah semua prajurit Tarukan. Beliau meminta agar bila pasukan Dulang Mangap datang, prajurit Tarukan menyerah, tidak melawan, dengan cara membuang senjata dan duduk bersila di tanah dengan posisi kedua tangan memeluk tengkuk (leher bagian belakang). Beliau juga meminta agar permaisuri tetap tinggal di istana dan menyerah kepada Dalem Wayan. Betapa sedih dan pilu hati permaisuri tiada terperikan. Ingin beliau menyertai Dalem Tarukan pergi ke mana saja, tetapi itu tidak mungkin karena beliau sedang hamil besar.
Prajurit Tarukan juga tidak mau menyerah begitu saja. Mereka sangat mencintai Dalem Tarukan dan meminta diijinkan menghadapi pasukan Dulang Mangap sampai habis-habisan (perang puputan). Dalem Tarukan tidak mengijinkan. Beliau mengingatkan bahwa masalah ini adalah masalah pertikaian antar keluarga, yaitu beliau dengan kakak beliau, Dalem Wayan. Beliau tidak ingin karena pertikaian keluarga ini lalu rakyat yang menjadi korban sia-sia. Dengan berat hati beliau juga berpesan kepada permaisuri agar baik-baik menjaga putranya yang masih di kandungan.
Permaisuri tetap berlutut meratapi keputusan Dalem Tarukan. Dalem Tarukan berusaha menenangkan permaisuri dengan mengatakan bahwa kejadian ini sudah kehendak Dewata. Kita sebagai manusia tiada daya menolak kehendak Yang Maha Kuasa. Karena itu pasrahlah; serahkanlah hidup mati kita kepada-Nya. Setelah itu beliau segera berangkat seorang diri kearah utara.
Pasukan Dulang Mangap di bawah Panglimanya Kiyai Parembu dengan teriakan-teriakan histeris bagaikan serigala haus darah, tiba di Puri Tarukan. Mereka terheran-heran karena melihat semua pasukan dan rakyat Tarukan menyerah total tanpa perlawanan, bahkan duduk bersila dengan pandangan menunduk memandang tanah. Suatu aturan perang, seorang kesatria tidak akan membunuh pasukan yang sudah menyerah apalagi tanpa senjata.
Mereka masuk ke istana, memeriksa setiap sudut tetapi tidak menjumpai jejak Dalem Tarukan. Mereka hanya menemukan permaisuri beliau yang bersimpuh berurai air mata. Pasukan Dulang Mangap lalu menjarah isi Puri Tarukan dan membakar sampai habis Puri Tarukan. Para tawanan digiring ke Puri Samprangan. Kejadian yang memilukan ini terjadi pada tahun 1377 M atau 1299 isaka.
Kiyai Parembu menghadap Dalem Wayan di Puri Samprangan, dan melaporkan bahwa Dalem Tarukan telah melarikan diri ke arah utara. Segala hasil jarahan Puri Tarukan diserahkan, dan permaisuri Dalem Tarukan ditawan di Puri Samprangan. Dalem Wayan memerintahkan Kiyai Parembu untuk meneruskan pengejaran esok harinya. Kiyai Parembu menyiapkan pasukan bersenjata sebanyak 2000 orang.
Perjalanan Ide Bethara Dalem Tarukan sejak dari Puri Tarukan, secara berurut adalah sebagai berikut :
TARO
Di desa ini beliau tidak lama, hanya lewat saja, kemudian karena dikejar terus oleh pasukan Dulang Mangap, beliau memutar kembali menuju desa :
TAMPUWAGAN
Di suatu tanah persawahan beliau melihat banyak orang sedang menanam padi. Ada seorang petani yang sedang membuang kotoran di sungai, dan bajunya ditinggalkan di tepi sungai. Baju itu lalu diambil oleh Dalem Tarukan, dikenakan, lalu beliau turut serta dengan para petani menanam padi. Seketika datanglah pasukan Dulang Mangap yang mengagetkan para petani.
Kiyai Parembu bertanya, apakah para petani melihat Dalem Tarukan di sekitar situ. Para petani serentak menjawab, tidak melihat siapa-siapa apalagi Dalem Tarukan. Pasukan Dulang Mangap memeriksa sekali lagi dan meneruskan pengejaran ke utara. Beberapa saat kemudian si petani yang selesai membuang kotoran itu bangkit dari sungai, mencari bajunya namun tidak ditemukan.
Dalem Tarukan berdiri sambil membuka penyamarannya. Seketika para petani terkesima karena baru kali itu mereka menatap sosok Dalem Tarukan yang tinggi besar, gagah perkasa, dengan raut wajah yang sangat tampan namun berwibawa. Kulit kehitaman dan rambut berombak yang panjangnya sebatas bahu menambah kewibawaan beliau. Para petani sujud menyembah serta mohon maaf karena tidak mengetahui kehadiran beliau di antara mereka.
Beliau, Dalem Tarukan menjelaskan secara singkat halangan yang menimpa, serta berpesan : “wahai kamu sekalian rakyat Tampuwagan, janganlah lagi kamu me-“cokor I Dewa” terhadapku. Kamu boleh menyapaku dengan “I Ratu, Gusti atau Jero”, karena aku akan tetap menyamar agar tidak diketahui keberadaanku di sini sehingga bebas dari pengejaran pasukan kakakku, Dalem Samprangan”.
Walaupun tidak rela, para petani itu serempak menyembah beliau dan merasa iba dengan nasib malang yang menimpa junjungan mereka itu. Dari Tampuwagan Dalem Tarukan meneruskan perjalanan ke desa :
PANTUNAN
Para pengejar yang mendapat informasi bahwa Dalem Tarukan ada di Desa Pantunan, segera ke sana. Beberapa saat sebelum kedatangan pasukan Dulang Mangap, Ide Bethara Dalem Tarukan telah diberi tahu oleh para petani di Pantunan. Beliau lalu bersembunyi di bawah pohon Jawa dan semak-semak pohon Jali yang tumbuh subur.
Ada sepasang burung perkutut hinggap di atas pohon Jawa tepat di atas persembunyian beliau seraya berkicau amat merdunya. Ada pula seekor burung puyuh berkeliaran dekat kaki beliau sambil berkicau. Para pengejar sudah berada dekat sekali ke pohon Jawa dan Jali tempat persembunyian beliau. Hampir saja mereka menguakkan semak-semak itu, namun tiba-tiba seorang pengejar mencegah. “Mana mungkin ada orang di situ, lihatlah burung-burung itu bertengger dan berkicau dengan tenang; jika ada manusia mereka sudah pasti terbang menghindar”
Pengejar yang lain membenarkan dan mereka meneruskan perjalanan. Terhindarlah Ide Bethara Dalem Tarukan dari penangkapan. Beliau lalu keluar dari semak-semak. Alangkah besar perlindungan Ide Sanghyang Parama Kawi. Seolah-olah semak-semak dan burung-burung itulah yang diminta oleh-Nya untuk melindungi beliau.
Di saat itulah dengan terharu beliau berterima kasih kepada semak-semak dan burung-burung, sehingga terucaplah janji beliau agar seketurunan beliau tidak membunuh/merusak serta memakan Jawa, Jali, burung perkutut dan burung puyuh. Di malam hari beliau meneruskan perjalanan ke desa :
POH TEGEH
Di desa Poh Tegeh (kini bernama Desa Suter) bermukimlah seorang kesatria bernama I Gusti Ngurah Poh Tegeh. Kesatria ini mempunyai nama/biseka lain yaitu I Gusti Ngurah Poh Landung, atau Kiyai Poh Tegeh, atau Kiyai Poh Landung, keturunan dari Sri Jayakata, Raja Tumapel (Jawa Timur) setelah wafatnya Sri Jayakatong. Datang ke Bali pada tahun 1350 M atau 1272 isaka mengemban tugas mengawal Ide Bethara Dalem Sri Kresna Kepakisan.
Sudah beberapa hari beliau mendengar berita bahwa Dalem Tarukan sedang berselisih dengan Dalem Wayan. Tiba-tiba di keremangan sinar bulan malam itu Kiyai Poh Tegeh terkejut menerima kedatangan Dalem Tarukan. Sang Kiyai segera menyambut dan bertanya meminta ketegasan, kenapa Dalem Tarukan datang mendadak, seorang diri tanpa pengiring.
Dalem Tarukan kemudian menjelaskan duduk persoalan selengkapnya dari awal hingga akhir. Kiyai mendengarkan dengan seksama, kemudian timbullah rasa ibanya. Kiyai memohon agar Dalem Tarukan tidak ke mana-mana lagi. Ia mempunyai suatu tempat yang dinamakan pedukuhan Bunga. Tempat itu dikitari hutan lebat dan jauh dari jalan yang biasa dilalui manusia. Dalem Tarukan menyetujui dan keesokan harinya beliau ke sana diiringi Kiyai Poh Landung.
PEDUKUHAN BUNGA
Di Pedukuhan Bunga beliau disambut oleh Dukuh Bunga yang juga menyediakan pondoknya untuk ditinggali Dalem Tarukan. Dalem Tarukan sangat terharu atas kesetiaan dan keramahtamahan Kiyai Poh Landung dan Dukuh Bunga beserta keluarga dan seluruh rakyatnya.
Keberadaan beliau di pedukuhan dirahasiakan sehingga Dalem Tarukan menetap dalam waktu lama dengan tenang. Di sini beliau memperdalam ilmu kependetaan bersama-sama Dukuh Bunga. Di suatu hari Dalem Tarukan merasa sedih karena mengenang peristiwa hancurnya Puri Tarukan. Beliau belum tahu bagaimana nasib permaisuri yang ketika ditinggalkan sedang hamil tua. Lama beliau termenung. Hal ini diperhatikan oleh Kiyai Poh Landung.
Kiyai turut prihatin dan memikirkan bagaimana cara menghibur Dalem Tarukan. Kiyai menemukan jalan dan merencanakan menghaturkan putrinya yang bernama Ni Gusti Luh Puaji sebagai istri Dalem Tarukan. Beberapa hari kemudian Kiyai mengusulkan rencananya itu kepada Dalem Tarukan. Beliau menerima dengan baik usul Kiyai, dengan pertimbangan perlunya menurunkan “sentana” dan juga menghormati kesetiaan Kiyai Poh Landung. Pertimbangan yang sama pula disampaikan ketika para pengikut setia beliau di kemudian hari masing-masing menghaturkan putri mereka sebagai istri-istri Dalem Tarukan. Secara bertahap berkembanglah keluarga Ide Bethara Dalem Tarukan sebagai berikut :
Baiklah kisah ini saya mulai :
Majapahit yang dipimpin Raja Putri : Sri Ratu Tribhuwanottunggadewi Jayawisnuwardhani bersama Patih Agung : Gajah Mada berhasil menguasai Kerajaan Bali Aga yang di pimpin oleh Raja : Paduka Bathara Sri Asta Asura Ratna Bumi Banten (dikenal dengan nama : Bedahulu) dengan Patih : Ki Pasung Grigis dan Ki Kebo Iwa, pada tahun 1343 M atau isaka 1265.
Pimpinan Pemerintahan sementara diserahkan kepada Mpu Jiwaksara yang kemudian bergelar Ki Patih Wulung. Beliau menempatkan pusat Pemerintahan di Gelgel. Walaupun Bali sudah dikalahkan Majapahit, tidak berarti rakyat dan tokoh-tokoh militer Bali Aga sudah menyerah. Mereka terus mengadakan perlawanan di bawah tanah, dan sekali-sekali muncul ke permukaan, misalnya pemberontakan yang dipimpin oleh Ki Tokawa di Ularan, dan Ki Buwahan di Batur.
Setelah tujuh tahun barulah pemberontakan-pemberontakan dapat dipadamkan, namun rakyat Bedahulu masih belum mau menerima kehadiran “si-penjajah” sepenuh hati. Melihat keamanan sudah membaik dan Pemerintahan sudah dapat berjalan sebagaimana mestinya, maka pada tahun 1350 M atau 1272 isaka, Ki Patih Wulung berangkat ke Majapahit untuk menghadap Sri Ratu. Tujuannya adalah melaporkan situasi di Bali dan memohon penunjukan seorang Raja di Bali Dwipa.
Atas saran Patih Agung Gajah Mada, pada tahun itu juga dilantiklah empat orang Raja, putra-putri Sri Soma Kepakisan, untuk memimpin kerajaan-kerajaan yang sudah ditaklukkan, yaitu : Sri Juru, menjadi Raja di Blambangan, Sri Bhima Sakti menjadi Raja di Pasuruan, Sri Kepakisan (putri) menjadi Raja di Sumbawa, dan Sri Kresna Kepakisan menjadi Raja di Bali Dwipa.
Dalem Ketut kemudian bergelar Dalem Sri Kresna Kepakisan, mulai memimpin Pemerintahan Kerajaan Bali Dwipa pada tahun 1350 M atau 1272 isaka. Oleh penduduk Bali beliau disebut sebagai I Dewa Wawu Rawuh. Ibu kota Kerajaan dipindahkan dari Gelgel ke Samprangan (Samplangan). Ki Patih Wulung menjabat sebagai Mangku Bumi.
Dalem Sri Kresna Kepakisan beristri dua, yaitu yang pertama : Ni Gusti Ayu Gajah Para, melahirkan : Dalem Wayan (Dalem Samprangan), Dalem Di-Madia (Dalem Tarukan), Dewa Ayu Wana (putri, meninggal ketika masih anak-anak), dan Dalem Ketut (Dalem Ketut Ngulesir). Istri yang kedua : Ni Gusti Ayu Kuta Waringin, melahirkan : Dewa Tegal Besung.
Dalem Sri Kresna Kepakisan moksah pada tahun 1373 M atau 1295 isaka. Beliau digantikan oleh putranya yang tertua yaitu Dalem Wayan, bergelar Dalem Sri Agra Samprangan. Beliau memerintah secara sah sampai tahun 1383 M atau 1305 isaka, kemudian beliau digantikan oleh adiknya yaitu : Dalem Ketut Ngulesir, bergelar Dalem Sri Semara Kepakisan, memerintah sejak tahun 1383 M atau 1305 isaka sampai tahun 1460 M atau 1382 isaka. Ibu kota Kerajaan dipindahkan dari Samprangan ke Gelgel yang diberi nama baru : Sweca Pura.
Di awal pemerintahan Dalem Sri Agra Samprangan (tahun 1373 M atau 1295 isaka) terasa situasi di Puri Samprangan memburuk, yaitu adanya upaya mengadu domba Raja dengan adik-adik beliau yang dilakukan oleh para Menteri dan pembantu dekat Raja.
Untuk menghindari pertengkaran, maka kedua adik Raja yaitu Dalem Di-Madia dan Dalem Ketut, memilih tinggal di luar istana. Dalem Di-Madia membangun istana dan bermukim di Desa Tarukan, Pejeng, oleh karena itu beliau bergelar : Dalem Tarukan. Dalem Ketut, tidak menetap. Beliau berpindah-pindah dari satu Desa ke Desa lain, menyamar sebagai penjudi ayam aduan; penduduk lalu menjuluki beliau : Dalem Ketut Ngulesir.
Selain untuk menghindari pertengkaran, beliau berdua juga bermaksud menyelidiki dukungan rakyat Bali (Bali-Aga) terhadap pemerintahan Samprangan serta mengadakan pendekatan dengan rakyat. Ide Bethara Dalem Tarukan memilih Desa Tarukan di Pejeng sebagai istana, karena dekat dengan rakyat Bedahulu yang sebahagian besar masih belum mengakui pemerintahan Samprangan.
Sementara itu pergolakan di Puri Samprangan makin memanas, ditandai dengan pemberian julukan yang tidak pada tempatnya kepada Raja, di mana Dalem Sri Agra Samprangan diberi julukan Dalem Ile (Ile=gila), Dalem Tarukan dinyatakan “rangseng” (=gila karena marah), dan Dalem Ketut dinyatakan sangat suka berjudi, khususnya mengadu ayam.
Julukan tidak pada tempatnya yang diberikan kepada para Raja itu sangat bertentangan dengan ajaran agama Hindu yang senantiasa mengajarkan penghormatan tinggi kepada Pemimpin Pemerintahan. Penghinaan kepada Raja itu jelas fitnah, karena jika benar adanya, pasti Maha Raja Majapahit dan Maha Patih Gajah Mada tidak akan tinggal diam. Tindakan pemecatan atau penggantian Raja pasti dilakukan. Selain itu, jika julukan itu benar, para musuh yaitu rakyat Bedahulu akan mempunyai peluang yang baik untuk menggulingkan Pemerintahan Samprangan.
Setelah selesai membangun Puri, Dalem Tarukan menikahi seorang Bidadari dari Gunung Lempuyang. Karena belum mempunyai putra, beliau mengajak kemenakannya, yaitu cucu Dalem Wayan, Raja Blambangan, bernama : Kuda Penandang Kajar untuk tinggal bersama-sama di Puri Tarukan.
Kuda Penandang Kajar adalah seorang pemuda yang tampan, gagah dan mempunyai kekuatan batin yang tinggi, khusus untuk meneliti apakah tanah ada kandungan emasnya atau tidak. Karena itulah Puri Tarukan sangat mewah dan terkesan kaya raya karena dipenuhi ornamen emas murni. Dalem Tarukan sangat menyayangi kemenakannya.
Pemerintahan Samprangan di ambang kehancuran, karena tidak adanya dukungan dari para Menteri dan pembantu Raja. Dalem Wayan merasa perlu memanggil adik beliau yaitu Dalem Ketut untuk diajak kembali tinggal di Puri Samprangan. Maksudnya agar Dalem Ketut turut membantu beliau menyelenggarakan pemerintahan.
Perbekel Kaba-Kaba diutus beliau untuk menjemput Dalem Ketut ke Desa Pandak, tetapi Dalem Ketut menolak karena beliau merasa belum mampu memimpin kerajaan di Samprangan. Jika Samprangan telah dipenuhi oleh para menteri dan pembantu Raja yang tidak setia, apakah beliau akan dapat memimpin dengan baik ?
Sementara Dalem Ketut mencari jalan keluar memecahkan masalah ini, datanglah Kuda Penandang Kajar sebagai utusan Dalem Tarukan memohon Dalem Ketut pulang untuk memimpin Kerajaan Samprangan. Dalem Tarukan sendiri tidak berniat menjadi Raja, karena beliau lebih tertarik kepada profesi kepanditaan. Pesan lain yang disampaikan Kuda Penandang Kajar adalah, jika Dalem Ketut berkenan, beliau dibolehkan menggunakan istana Tarukan.
Walaupun penjemputan kali ini penuh penghormatan dan kemewahan, misalnya dengan kuda tunggangan istimewa bernama I Gagak dan sebuah keris milik Dalem Tarukan yang bernama I Pangenteg Rat, Dalem Ketut tetap menolak permintaan kakaknya itu, sekali lagi dengan alasan belum mampu memimpin atau menjadi Raja.
Kecewa karena tugasnya tidak berhasil, Kuda Penandang Kajar kembali ke Tarukan dengan lesu. Di perjalanan beliau disambar burung gagak hingga destarnya jatuh. Sesampainya di gerbang istana Tarukan, dilihatnya puncak gelung kuri terpenggal. Hanya Kuda Penandang kajar yang melihat demikian, sementara para pengiringnya tidak melihat puncak gelung kuri itu terpenggal. Pertanda buruk ini terkesan mendalam di hati Kuda Penandang Kajar, sampai-sampai beliau jatuh sakit. Dalem Tarukan prihatin pada sakit yang diderita kemenakannya ini.
Sementara itu tersiar berita yang mengagetkan, bahwa para panglima perang Samprangan merencanakan memerangi Kerajaan Blambangan. Dalem Tarukan tidak setuju dengan rencana itu, mengingat bahwa Dalem Blambangan yaitu ayah Kuda Penandang Kajar, masih saudara sepupu beliau. Dalem Tarukan berpendapat bahwa rencana itu mempunyai latar lain, mungkin saja gerakan merebut kekuasaan, yaitu bila prajurit dikerahkan ke Blambangan, Dalem Wayan akan mudah digulingkan.
Dalem Tarukan cepat mengambil inisiatif untuk mengikat tali persaudaraan antara Samprangan dengan Blambangan yaitu dengan menikahkan Kuda Penandang Kajar dengan putri Dalem Wayan, bernama I Dewa Ayu Muter. Dengan ikatan tali persaudaraan itu, perang dapat dicegah. Sakitnya Kuda Penandang Kajar menjadi suatu jalan untuk memohon restu para Dewata. Jika Dewata mengijinkan pernikahan ini, kesembuhan Kuda Penandang Kajar menjadi suatu batu ujian. Pertimbangan lain, Dalem Tarukan melihat bahwa Kuda Penandang Kajar sudah cukup dewasa, dan dari gelagat sehari-hari nampaknya tertarik kepada I Dewa Ayu Muter.
Terucaplah tegur sapa Dalem Tarukan kepada Kuda Penandang Kajar : Duhai anakku, segeralah sembuh; ayah berkeinginan mengawinkan anak dengan I Dewa Ayu Muter.Ternyata permohonan Dalem Tarukan kepada para Dewata terkabul. Kuda Penandang Kajar segera sembuh dan sehat seperti semula. Tentu saja Dalem Tarukan sangat bergembira. Kini beliau merencanakan mewujudkan perkawinan kedua muda-mudi itu.
Untuk meminang tentu saja tidak mungkin, karena posisi Dalem Wayan sangat lemah. Beliau hampir tidak dapat memutuskan sesuatu. Semua keputusan diambil oleh para Menteri. Akhirnya dilaksanakanlah perkawinan secara adat kawin-lari. Awalnya perkawinan itu berjalan lancar, sampai pada malam hari terjadi hal yang merupakan akhir dari keberadaan Puri Tarukan. Kedua mempelai yang sedang berbulan madu di peraduan, tewas berbarengan tertusuk senjata keris. Seorang abdi perempuan pengasuh I Dewa Ayu Muter di Puri Samprangan melaporkan secara tergesa-gesa kepada Dalem Wayan bahwa putri beliau satu-satunya yaitu I Dewa Ayu Muter, semalam telah tewas di Puri Tarukan terbunuh oleh Ki Tanda Langlang. Dalem Wayan tentu saja sangat terkejut dan segera memanggil para menterinya. Seorang panglima perang menyampaikan ceritra yang lengkap, serta memperkuat keyakinan Dalem Wayan bahwa putri beliau bersama-sama Kuda Penandang Kajar benar telah tewas ditikam Ki Tanda Langlang.
Betapa murkanya Dalem Wayan setelah mendapat penjelasan para Menterinya itu. Segera disuruhlah memukul kentongan dengan suara “bulus” sehingga para prajurit segera berkumpul di halaman istana. Di saat itu Dalem Wayan memerintahkan pasukan Dulang Mangap yang dipimpin Panglimanya Kiyai Parembu, menyerang menghancurkan Puri Tarukan serta menangkap Dalem Tarukan hidup atau mati. Dengan bersorak gegap gempita pasukan itu bergegas menuju Puri Tarukan.
Kini diceritakan Ide Bethara Dalem Tarukan di Puri Tarukan. Betapa sedih dan terkejutnya beliau menyaksikan nasib yang tragis menimpa putra kesayangannya bersama menantunya yang meninggal di kamar pengantin justru pada malam pertama yang seharusnya berkesan sangat bahagia. Beliau sadar bahwa kejadian ini adalah puncak upaya yang sangat keji dari orang-orang yang ingin menguasai kerajaan Samprangan. Beliau ingin menyelesaikan masalah ini melalui pembicaraan dengan kakak beliau, tetapi nampaknya keadaan sudah tidak memungkinkan lagi karena Dalem Wayan sudah termakan fitnah. Terdengar pula berita bahwa pasukan Dulang Mangap sedang menuju Puri Tarukan untuk menangkap beliau dan menghancurkan Puri Tarukan.
Di saat yang berbahaya itu beliau cepat berpikir dan kemudian dikumpulkanlah semua prajurit Tarukan. Beliau meminta agar bila pasukan Dulang Mangap datang, prajurit Tarukan menyerah, tidak melawan, dengan cara membuang senjata dan duduk bersila di tanah dengan posisi kedua tangan memeluk tengkuk (leher bagian belakang). Beliau juga meminta agar permaisuri tetap tinggal di istana dan menyerah kepada Dalem Wayan. Betapa sedih dan pilu hati permaisuri tiada terperikan. Ingin beliau menyertai Dalem Tarukan pergi ke mana saja, tetapi itu tidak mungkin karena beliau sedang hamil besar.
Prajurit Tarukan juga tidak mau menyerah begitu saja. Mereka sangat mencintai Dalem Tarukan dan meminta diijinkan menghadapi pasukan Dulang Mangap sampai habis-habisan (perang puputan). Dalem Tarukan tidak mengijinkan. Beliau mengingatkan bahwa masalah ini adalah masalah pertikaian antar keluarga, yaitu beliau dengan kakak beliau, Dalem Wayan. Beliau tidak ingin karena pertikaian keluarga ini lalu rakyat yang menjadi korban sia-sia. Dengan berat hati beliau juga berpesan kepada permaisuri agar baik-baik menjaga putranya yang masih di kandungan.
Permaisuri tetap berlutut meratapi keputusan Dalem Tarukan. Dalem Tarukan berusaha menenangkan permaisuri dengan mengatakan bahwa kejadian ini sudah kehendak Dewata. Kita sebagai manusia tiada daya menolak kehendak Yang Maha Kuasa. Karena itu pasrahlah; serahkanlah hidup mati kita kepada-Nya. Setelah itu beliau segera berangkat seorang diri kearah utara.
Pasukan Dulang Mangap di bawah Panglimanya Kiyai Parembu dengan teriakan-teriakan histeris bagaikan serigala haus darah, tiba di Puri Tarukan. Mereka terheran-heran karena melihat semua pasukan dan rakyat Tarukan menyerah total tanpa perlawanan, bahkan duduk bersila dengan pandangan menunduk memandang tanah. Suatu aturan perang, seorang kesatria tidak akan membunuh pasukan yang sudah menyerah apalagi tanpa senjata.
Mereka masuk ke istana, memeriksa setiap sudut tetapi tidak menjumpai jejak Dalem Tarukan. Mereka hanya menemukan permaisuri beliau yang bersimpuh berurai air mata. Pasukan Dulang Mangap lalu menjarah isi Puri Tarukan dan membakar sampai habis Puri Tarukan. Para tawanan digiring ke Puri Samprangan. Kejadian yang memilukan ini terjadi pada tahun 1377 M atau 1299 isaka.
Kiyai Parembu menghadap Dalem Wayan di Puri Samprangan, dan melaporkan bahwa Dalem Tarukan telah melarikan diri ke arah utara. Segala hasil jarahan Puri Tarukan diserahkan, dan permaisuri Dalem Tarukan ditawan di Puri Samprangan. Dalem Wayan memerintahkan Kiyai Parembu untuk meneruskan pengejaran esok harinya. Kiyai Parembu menyiapkan pasukan bersenjata sebanyak 2000 orang.
Perjalanan Ide Bethara Dalem Tarukan sejak dari Puri Tarukan, secara berurut adalah sebagai berikut :
TARO
Di desa ini beliau tidak lama, hanya lewat saja, kemudian karena dikejar terus oleh pasukan Dulang Mangap, beliau memutar kembali menuju desa :
TAMPUWAGAN
Di suatu tanah persawahan beliau melihat banyak orang sedang menanam padi. Ada seorang petani yang sedang membuang kotoran di sungai, dan bajunya ditinggalkan di tepi sungai. Baju itu lalu diambil oleh Dalem Tarukan, dikenakan, lalu beliau turut serta dengan para petani menanam padi. Seketika datanglah pasukan Dulang Mangap yang mengagetkan para petani.
Kiyai Parembu bertanya, apakah para petani melihat Dalem Tarukan di sekitar situ. Para petani serentak menjawab, tidak melihat siapa-siapa apalagi Dalem Tarukan. Pasukan Dulang Mangap memeriksa sekali lagi dan meneruskan pengejaran ke utara. Beberapa saat kemudian si petani yang selesai membuang kotoran itu bangkit dari sungai, mencari bajunya namun tidak ditemukan.
Dalem Tarukan berdiri sambil membuka penyamarannya. Seketika para petani terkesima karena baru kali itu mereka menatap sosok Dalem Tarukan yang tinggi besar, gagah perkasa, dengan raut wajah yang sangat tampan namun berwibawa. Kulit kehitaman dan rambut berombak yang panjangnya sebatas bahu menambah kewibawaan beliau. Para petani sujud menyembah serta mohon maaf karena tidak mengetahui kehadiran beliau di antara mereka.
Beliau, Dalem Tarukan menjelaskan secara singkat halangan yang menimpa, serta berpesan : “wahai kamu sekalian rakyat Tampuwagan, janganlah lagi kamu me-“cokor I Dewa” terhadapku. Kamu boleh menyapaku dengan “I Ratu, Gusti atau Jero”, karena aku akan tetap menyamar agar tidak diketahui keberadaanku di sini sehingga bebas dari pengejaran pasukan kakakku, Dalem Samprangan”.
Walaupun tidak rela, para petani itu serempak menyembah beliau dan merasa iba dengan nasib malang yang menimpa junjungan mereka itu. Dari Tampuwagan Dalem Tarukan meneruskan perjalanan ke desa :
PANTUNAN
Para pengejar yang mendapat informasi bahwa Dalem Tarukan ada di Desa Pantunan, segera ke sana. Beberapa saat sebelum kedatangan pasukan Dulang Mangap, Ide Bethara Dalem Tarukan telah diberi tahu oleh para petani di Pantunan. Beliau lalu bersembunyi di bawah pohon Jawa dan semak-semak pohon Jali yang tumbuh subur.
Ada sepasang burung perkutut hinggap di atas pohon Jawa tepat di atas persembunyian beliau seraya berkicau amat merdunya. Ada pula seekor burung puyuh berkeliaran dekat kaki beliau sambil berkicau. Para pengejar sudah berada dekat sekali ke pohon Jawa dan Jali tempat persembunyian beliau. Hampir saja mereka menguakkan semak-semak itu, namun tiba-tiba seorang pengejar mencegah. “Mana mungkin ada orang di situ, lihatlah burung-burung itu bertengger dan berkicau dengan tenang; jika ada manusia mereka sudah pasti terbang menghindar”
Pengejar yang lain membenarkan dan mereka meneruskan perjalanan. Terhindarlah Ide Bethara Dalem Tarukan dari penangkapan. Beliau lalu keluar dari semak-semak. Alangkah besar perlindungan Ide Sanghyang Parama Kawi. Seolah-olah semak-semak dan burung-burung itulah yang diminta oleh-Nya untuk melindungi beliau.
Di saat itulah dengan terharu beliau berterima kasih kepada semak-semak dan burung-burung, sehingga terucaplah janji beliau agar seketurunan beliau tidak membunuh/merusak serta memakan Jawa, Jali, burung perkutut dan burung puyuh. Di malam hari beliau meneruskan perjalanan ke desa :
POH TEGEH
Di desa Poh Tegeh (kini bernama Desa Suter) bermukimlah seorang kesatria bernama I Gusti Ngurah Poh Tegeh. Kesatria ini mempunyai nama/biseka lain yaitu I Gusti Ngurah Poh Landung, atau Kiyai Poh Tegeh, atau Kiyai Poh Landung, keturunan dari Sri Jayakata, Raja Tumapel (Jawa Timur) setelah wafatnya Sri Jayakatong. Datang ke Bali pada tahun 1350 M atau 1272 isaka mengemban tugas mengawal Ide Bethara Dalem Sri Kresna Kepakisan.
Sudah beberapa hari beliau mendengar berita bahwa Dalem Tarukan sedang berselisih dengan Dalem Wayan. Tiba-tiba di keremangan sinar bulan malam itu Kiyai Poh Tegeh terkejut menerima kedatangan Dalem Tarukan. Sang Kiyai segera menyambut dan bertanya meminta ketegasan, kenapa Dalem Tarukan datang mendadak, seorang diri tanpa pengiring.
Dalem Tarukan kemudian menjelaskan duduk persoalan selengkapnya dari awal hingga akhir. Kiyai mendengarkan dengan seksama, kemudian timbullah rasa ibanya. Kiyai memohon agar Dalem Tarukan tidak ke mana-mana lagi. Ia mempunyai suatu tempat yang dinamakan pedukuhan Bunga. Tempat itu dikitari hutan lebat dan jauh dari jalan yang biasa dilalui manusia. Dalem Tarukan menyetujui dan keesokan harinya beliau ke sana diiringi Kiyai Poh Landung.
PEDUKUHAN BUNGA
Di Pedukuhan Bunga beliau disambut oleh Dukuh Bunga yang juga menyediakan pondoknya untuk ditinggali Dalem Tarukan. Dalem Tarukan sangat terharu atas kesetiaan dan keramahtamahan Kiyai Poh Landung dan Dukuh Bunga beserta keluarga dan seluruh rakyatnya.
Keberadaan beliau di pedukuhan dirahasiakan sehingga Dalem Tarukan menetap dalam waktu lama dengan tenang. Di sini beliau memperdalam ilmu kependetaan bersama-sama Dukuh Bunga. Di suatu hari Dalem Tarukan merasa sedih karena mengenang peristiwa hancurnya Puri Tarukan. Beliau belum tahu bagaimana nasib permaisuri yang ketika ditinggalkan sedang hamil tua. Lama beliau termenung. Hal ini diperhatikan oleh Kiyai Poh Landung.
Kiyai turut prihatin dan memikirkan bagaimana cara menghibur Dalem Tarukan. Kiyai menemukan jalan dan merencanakan menghaturkan putrinya yang bernama Ni Gusti Luh Puaji sebagai istri Dalem Tarukan. Beberapa hari kemudian Kiyai mengusulkan rencananya itu kepada Dalem Tarukan. Beliau menerima dengan baik usul Kiyai, dengan pertimbangan perlunya menurunkan “sentana” dan juga menghormati kesetiaan Kiyai Poh Landung. Pertimbangan yang sama pula disampaikan ketika para pengikut setia beliau di kemudian hari masing-masing menghaturkan putri mereka sebagai istri-istri Dalem Tarukan. Secara bertahap berkembanglah keluarga Ide Bethara Dalem Tarukan sebagai berikut :
| NAMA MERTUA |
NAMA ISTRI |
NAMA PUTRA/PUTRI |
| Gusti Ngurah Poh Landung |
Gusti Luh Puaji |
Gusti Gede Sekar, Gusti Gede Pulasari |
| Dukuh Bunga |
Jero Sekar |
Gusti Gede Bandem |
| Dukuh Darmaji |
Jero Dangin |
Gusti Gede Dangin |
| Jero Mekel Belayu |
Jero Belayu |
Gusti Gede Belayu |
| Gusti Gede Bekung |
Gusti Luh Balangan |
Gusti Gede Balangan, Gusti Luh Wanagiri |
Di pedukuhan Bunga beliau sekeluarga hidup aman, tenteram, dan berbahagia. Di waktu-waktu senggang beliau menanam berbagai macam kembang, kacang-kacangan, dan sayur-sayuran. Dengan kelima istri dan ketujuh putra/putrinya beliau hidup rukun dan damai; bercengkrama, bersenda gurau, bermain-main di hutan dan mandi-mandi di sungai diselingi gelak tawa riang putri, si bungsu Gusti Luh Wanagiri.
Ide Sanghyang Parama Kawi yang maha
kuasa, telah mengaruniai beliau putra-putra yang tampan, gagah dengan
ciri-ciri khas wibawa kebangsawanan. Tak kalah dengan si mungil, putri
beliau satu-satunya, tanda-tanda kecantikan yang masih tersembunyi
menunggu saat menyembul di kemudian hari.
Hentikan dulu sejenak cerita di
pedukuhan Bunga. Kini diceritakan keadaan Dalem Wayan di Puri
Samprangan. Sudah sekian lama Kiyai Parembu mengejar Dalem Tarukan ke
hutan-hutan dan desa-desa di pegunungan, tiada kabar berita, membuat
Dalem Wayan resah. Dalam hati kecilnya beliau menyesal telah
mengeluarkan perintah yang demikian kejam namun sebagai seorang Raja
tidak mungkin beliau menarik kembali perintah itu.
Kini beliau mengharap semoga adik
kandung beliau itu selamat dan untuk bisa selamat selamanya,
diperkirakan Dalem Tarukan telah berhasil menyeberang ke Jawa, jika
benar maka jalan yang terbaik adalah melalui Desa Kubutambahan di bekas
kerajaan Dalem Kesari Marwadewa yaitu di Pura Penyusuan.
Rasa kesepian karena tiada saudara
sekandung, perasaan bersalah yang terus menghantui, serta siasat dari
para Menteri yang tiada hentinya, membuat Dalem Wayan tidak bergairah
memimpin pemerintahan Kerajaan Samprangan. Perasaan bersalah Dalem Wayan
makin menjadi-jadi setelah istri Dalem Tarukan yaitu bidadari dari
Lempuyang moksah ketika putra yang dilahirkannya genap berusia 42 hari.
Bayi mungil ini dinamai I Dewa Bagus Dharma. Berhari-hari Dalem Wayan di
peraduan saja, tidak beda seperti orang yang sedang sakit. Para menteri
dan petinggi kerajaan yang ingin menghadap tidak berhasil menemui
beliau, sehingga lama kelamaan roda pemerintahan tidak berjalan
sebagaimana mestinya.
Keadaan ini mengkhawatirkan beberapa
menteri karena dapat membahayakan kelangsungan berdirinya kerajaan
Samprangan, apalagi kaum pemberontak dari kalangan Bali Aga masih terus
berusaha menggulingkan kerajaan. Seorang menteri bernama Kiyai Kebon
Tubuh mengambil inisiatif berangkat ke desa Pandak (Tabanan) menjemput
Dalem Ketut Ngulesir untuk memohon beliau bersedia menjadi Raja.
Kiyai berhasil menemui Dalem Ketut di
arena sabungan ayam sedang berwajah lesu karena baru saja kalah
bertaruh. Kiyai melaporkan secara singkat keadaan Dalem Wayan di Puri
Samprangan dan peristiwa menyedihkan yang terjadi di Puri Tarukan.
Sejenak Dalem Ketut termenung
membayangkan betapa tragisnya nasib beliau tiga bersaudara. Kiyai
melanjutkan permohonannya agar Dalem Ketut sudi pulang ke Samprangan
untuk memimpin kerajaan Bali Dwipa. Walaupun Dalem Ketut sudah lama
meninggalkan Samprangan, beliau selalu memantau apa yang terjadi di Puri
Samprangan. Permintaan Kiyai Kebon Tubuh itu memang patut
dipertimbangkan demi menjaga kelangsungan roda pemerintahan, namun
bagaimana nanti dengan kedudukan Dalem Wayan ?
Pemikiran Dalem Ketut itu nampaknya
terbaca oleh Kiyai Kebon Tubuh. Segera ia menawarkan agar Dalem Ketut
memerintah dari Gelgel, bukan dari Samprangan. Dengan kata lain kerajaan
seolah-olah sudah dipindahkan ke Gelgel. Tawaran ini disetujui Dalem
Ketut dan segeralah beliau berangkat ke Gelgel (tahun 1380 M atau 1302
isaka).
Dalem Ketut Ngulesir membangun istana di
Gelgel di kebun kelapa milik Kiyai Kebon Tubuh. Berita ini didengar
oleh Dalem Wayan namun tidak bereaksi karena beliau sudah kehilangan
gairah hidup. Para menteri dan pembantu Raja di Samprangan banyak yang
berpindah ke Gelgel atas kemauan sendiri karena merasa lebih senang
mengabdi kepada Dalem Ketut. Roda pemerintahan diatur dari Gelgel yang
telah berganti nama menjadi Suwecapura. Para Manca yang tinggal di
pedesaan dan pegunungan mendengar berita ini lalu datang menyatakan
dukungan dan kesetiaan kepada Dalem Ketut.
Sementara itu Dalem Wayan makin parah
sakitnya dan akhirnya beliau moksah pada tahun 1383 M atau 1305 isaka.
Setelah Dalem Wayan moksah barulah Dalem Ketut menyelenggarakan upacara
penobatan Raja (biseka Ratu) dengan gelar Ide Bethara Dalem Semara
Kepakisan. Segera setelah Dalem Ketut resmi menjadi Raja, beliau
teringat pada kakak beliau, Dalem Tarukan. Diutuslah Kiyai Kebon Tubuh
ke pedukuhan Bunga untuk meminta Dalem Tarukan kembali ke Tarukan atau
ke Suwecapura.
Permintaan ini ditolak beliau karena
beberapa pertimbangan antara lain : jika kembali ke Tarukan, istana ini
sudah hancur dan akan mengingatkan kenangan pahit yang dialami beberapa
tahun lampau. Istri beliau yang dicintai yaitu bidadari Lempuyang-pun
(dijuluki : Dedari Kuning) telah moksah. Jika ke Suwecapura, walaupun
adik beliau Dalem Ketut mau menerima, belum tentu para menteri dan
petinggi kerajaan lain mau juga menerima dengan baik; sementara itu
beliau sudah berbahagia di pedukuhan Bunga.
Kiyai Kebon Tubuh kembali ke Suwecapura
dan melaporkan penolakan Dalem Tarukan tersebut. Dalem Ketut kecewa
karena maksud baik beliau tidak ditanggapi oleh Dalem Tarukan, namun
beliau dapat memahami pemikiran kakak beliau itu. Dalem Tarukan yang
menduga bahwa para menteri di Suwecapura dan para pengejar dari
Samprangan telah mengetahui tempat persembunyian beliau, lalu memutuskan
untuk meninggalkan pedukuhan Bunga. Berangkatlah rombongan keluarga
besar itu diiringi oleh Dukuh Darmaji dan beberapa rakyatnya menuju desa
:
SEKAHAN
Hanya semalam beliau ada di desa Sekahan, kemudian meneruskan perjalanan ke desa :
Hanya semalam beliau ada di desa Sekahan, kemudian meneruskan perjalanan ke desa :
SEKARDADI
Di sini beliau beserta rombongan bermalam di pondok kerabat Jero Dukuh Darmaji selama tiga malam, kemudian meneruskan perjalanan ke desa :
Di sini beliau beserta rombongan bermalam di pondok kerabat Jero Dukuh Darmaji selama tiga malam, kemudian meneruskan perjalanan ke desa :
KINTAMANI
Hanya lewat saja, lalu terus menuju desa :
Hanya lewat saja, lalu terus menuju desa :
PANARAJON
Di sini rombongan beliau dihembus angin topan sehingga sebelas pengiring beliau meninggal dunia. Setelah topan reda, rombongan meneruskan perjalanan ke desa :
Di sini rombongan beliau dihembus angin topan sehingga sebelas pengiring beliau meninggal dunia. Setelah topan reda, rombongan meneruskan perjalanan ke desa :
BALINGKANG
Merasa aman, di sini beliau tinggal selama tiga bulan; setelah itu rombongan menuju desa
Merasa aman, di sini beliau tinggal selama tiga bulan; setelah itu rombongan menuju desa
SUKAWANA
Dalam perjalanan yang melelahkan ini putri beliau yang berusia 4 tahun, Gusti Luh Wanagiri menangis karena lapar. Dalem Tarukan lalu bertanya kepada Dukuh Darmaji apakah membawa makanan. Dukuh menjawab, tidak membawa makanan, hanya beberapa genggam beras. Dalem Tarukan lalu tergesa-gesa memberikan beras itu kepada putrinya, karena tidak sempat lagi memasaknya. Beberapa saat kemudian putrinya sakit perut karena memakan beras mentah dan akhirnya tidak tertolong.
Dalam perjalanan yang melelahkan ini putri beliau yang berusia 4 tahun, Gusti Luh Wanagiri menangis karena lapar. Dalem Tarukan lalu bertanya kepada Dukuh Darmaji apakah membawa makanan. Dukuh menjawab, tidak membawa makanan, hanya beberapa genggam beras. Dalem Tarukan lalu tergesa-gesa memberikan beras itu kepada putrinya, karena tidak sempat lagi memasaknya. Beberapa saat kemudian putrinya sakit perut karena memakan beras mentah dan akhirnya tidak tertolong.
Putri
yang dicintainya meninggal dunia. Betapa sedih beliau dan terucaplah
kata-kata beliau : “Ya, Tuhan betapa besar cobaan yang kami terima,
sangat besarlah penyesalan kami karena seolah-olah memberi jalan
kematian putriku. Nah agar hal ini tidak terulang lagi, wahai semua
putra dan semua keturunanku, kelak di kemudian hari janganlah
sekali-kali kalian memakan beras mentah”
Setelah
itu Dalem Tarukan lalu meminta Ki Pasek Sikawan mengubur jenazah
putrinya. Karena letak desa Sukawana di sebelah timur bukit Penulisan,
maka agar prabu layon berada di “hulu” dikuburlah jenazah putrinya
dengan kepala di arah barat. Di saat ini terucaplah bisama beliau agar
seketurunan beliau bila meninggal atau di-aben agar kepala berada di
arah barat, sebagai tanda ingat akan peristiwa menyedihkan ini. Dari
Sukawana beliau menuju ke desa :
SIKAWAN
Di desa ini beliau ditemui oleh Ki Pasek Ban dan Ki Pasek Jatituhu. Beliau sempat beristirahat selama tiga bulan, selanjutnya menuju desa :
Di desa ini beliau ditemui oleh Ki Pasek Ban dan Ki Pasek Jatituhu. Beliau sempat beristirahat selama tiga bulan, selanjutnya menuju desa :
PENEK
Tidak menetap, hanya memintas saja, lalu terus ke desa :
Tidak menetap, hanya memintas saja, lalu terus ke desa :
BAN (EBAN)
Juga tidak menetap, terus ke desa :
Juga tidak menetap, terus ke desa :
TEMANGKUNG
Tidak menetap, terus ke desa :
Tidak menetap, terus ke desa :
CARUCUT
Perjalanan menelusuri pantai; tiba di suatu tempat yang indah beliau berhenti sejenak. Sudah sekian jauh beliau berjalan baru di situlah merasa lega dan firasat beliau mengatakan bahwa tempat ini aman dari kejaran pasukan Dulang Mangap. Beliau lalu membicarakan rencana untuk menetap di situ. Semua pengikut beliau : Dukuh Darmaji, Ki Pasek Ban, Ki Pasek Sikawan, Ki Pasek Jatituhu, Ki Pasek Penek, Ki Pasek Daya, Ki Pasek Temangkung, dan Ki Pasek Sukawana setuju.
Perjalanan menelusuri pantai; tiba di suatu tempat yang indah beliau berhenti sejenak. Sudah sekian jauh beliau berjalan baru di situlah merasa lega dan firasat beliau mengatakan bahwa tempat ini aman dari kejaran pasukan Dulang Mangap. Beliau lalu membicarakan rencana untuk menetap di situ. Semua pengikut beliau : Dukuh Darmaji, Ki Pasek Ban, Ki Pasek Sikawan, Ki Pasek Jatituhu, Ki Pasek Penek, Ki Pasek Daya, Ki Pasek Temangkung, dan Ki Pasek Sukawana setuju.
Di situlah beliau membuka perkebunan
kelapa dan tanaman palawija, dibantu oleh ratusan rakyat pegunungan yang
setia kepada Dalem Tarukan. Lama-kelamaan makin banyak rakyat dan
pemekel dari pulau Bali pesisir utara yang berdatangan menghaturkan
sembah sujud kehadapan beliau dan tetap menjunjung beliau sebagai Dalem.
Dalem Tarukan lalu bersabda : “kamu semua rakyat pegunungan dan
pesisir, aku menerima penghormatan dan kesetiaanmu, tetapi janganlah
kamu me-“cokor I Dewa” kepadaku, karena kini aku bukanlah seorang Dalem
lagi”
Walaupun demikian, rakyat tetap saja
menghormati beliau dengan hatur : cokor I Dewa” karena tak seorangpun
berani merubah kebiasaan sebutan. Terkenallah beliau sampai ke
perbatasan di arah barat : Desa Tejakula, di arah selatan : Desa Poh
Tegeh, di arah Timur Desa Ban, (arah utara : Laut Bali).
Berkat asung kerta nugraha Ide Sanghyang
Parama Kawi, hasil perkebunan beliau melimpah, sehingga lama kelamaan
keluarga dan pengiring beliau kaya raya dan selalu bersuka ria. Maka
tempat itu dinamakan Sukadana.
SUKADANA
Ide Bethara Dalem Tarukan sekeluarga beserta para pengiringnya menikmati kebahagiaan hidup di Sukadana. Namun di suatu saat beliau terkenang akan putri beliau yaitu Gusti Luh Wanagiri yang meninggal dan dikuburkan di Sukawana. Atas usul para pengikutnya yaitu Ki Pasek Jatituhu, Ki Pasek Bunga, Ki Pasek Darmaji, Ki Pasek Ban, Ki Pasek Daya, Ki Pasek Penek, Ki Pasek Temakung, Ki Pasek Sikawan, Dukuh Bunga, Dukuh Jatituhu, dan Dukuh Pantunan, dilaksanakanlah pelebon putri beliau secara megah dan besar-besaran.
Ide Bethara Dalem Tarukan sekeluarga beserta para pengiringnya menikmati kebahagiaan hidup di Sukadana. Namun di suatu saat beliau terkenang akan putri beliau yaitu Gusti Luh Wanagiri yang meninggal dan dikuburkan di Sukawana. Atas usul para pengikutnya yaitu Ki Pasek Jatituhu, Ki Pasek Bunga, Ki Pasek Darmaji, Ki Pasek Ban, Ki Pasek Daya, Ki Pasek Penek, Ki Pasek Temakung, Ki Pasek Sikawan, Dukuh Bunga, Dukuh Jatituhu, dan Dukuh Pantunan, dilaksanakanlah pelebon putri beliau secara megah dan besar-besaran.
Lokasi upacara dipilih di Bukit Mangun;
pada saat pembakaran, prabu layon mengarah ke barat. Pemuput upacara
adalah : Dukuh Bunga, Dukuh Pantunan, dan Dukuh Jatituhu. Abu jenazah
dipendem di Bukit Mangun. Selesai upacara pelebon, mereka kembali pulang
ke Sukadana. Beberapa lama kemudian para pengiring beliau menyarankan
agar rombongan kembali ke desa Poh Tegeh, karena desa itu lebih layak
dijadikan tempat menetap.
POH TEGEH
Betapa gembiranya I Gusti Ngurah Poh Tegeh menyambut kedatangan Ide Bethara Dalem Tarukan setelah sekian lama berpisah. Rombongan besar itu dijamu secara meriah. Tiba-tiba timbul keinginan Ide Bethara Dalem Tarukan untuk meneruskan perjalanan ke selatan karena seperti ada firasat bahwa kemungkinan putra beliau yang beribu dedari Lempuyang masih hidup dan kini berada entah di mana.
Betapa gembiranya I Gusti Ngurah Poh Tegeh menyambut kedatangan Ide Bethara Dalem Tarukan setelah sekian lama berpisah. Rombongan besar itu dijamu secara meriah. Tiba-tiba timbul keinginan Ide Bethara Dalem Tarukan untuk meneruskan perjalanan ke selatan karena seperti ada firasat bahwa kemungkinan putra beliau yang beribu dedari Lempuyang masih hidup dan kini berada entah di mana.
Hal itu disampaikan kepada Kiyai Poh
Tegeh. Mula-mula Kiyai mencegah rencana beliau itu; namun melihat beliau
sangat bersemangat, Kiyai mendukung serta memohon agar Dalem Tarukan
sangat berhati-hati di perjalanan. Beberapa hari kemudian rombongan
beliau berangkat menuju desa :
SIDAPARNA
Di desa ini beliau bertemu dengan beberapa penduduk yang memberikan informasi bahwa Dalem Ketut yang menggantikan Dalem Wayan, memerintah di Gelgel secara bijaksana dan semuanya berjalan sangat baik. Dalem Ketut tidak pernah lagi menanyakan keberadaan Dalem Tarukan. Demikian pula para prajurit Samprangan yang dahulu mengejar Dalem Tarukan tidak terdengar lagi kabar beritanya. Dalem Tarukan meneruskan perjalanan ke :
Di desa ini beliau bertemu dengan beberapa penduduk yang memberikan informasi bahwa Dalem Ketut yang menggantikan Dalem Wayan, memerintah di Gelgel secara bijaksana dan semuanya berjalan sangat baik. Dalem Ketut tidak pernah lagi menanyakan keberadaan Dalem Tarukan. Demikian pula para prajurit Samprangan yang dahulu mengejar Dalem Tarukan tidak terdengar lagi kabar beritanya. Dalem Tarukan meneruskan perjalanan ke :
GUNUNG PENIDA
Di suatu dataran tinggi Dalem Tarukan berhenti. Tempat itu sangat indah karena diapit oleh dua buah sungai yang sangat jernih airnya. Dikelilingi oleh hutan yang penuh dengan aneka satwa, ada tanah datar yang luas, cocok untuk persawahan. Lama beliau termenung menikmati keindahan pemandangan alami itu. Beliau berpikir, inilah tempat yang sangat sesuai untuk tempat menetap. Jika meneruskan perjalanan, belum juga tentu ke mana arahnya; di samping itu anggota rombongan beliau sudah lelah tinggal berpindah-pindah.
Di suatu dataran tinggi Dalem Tarukan berhenti. Tempat itu sangat indah karena diapit oleh dua buah sungai yang sangat jernih airnya. Dikelilingi oleh hutan yang penuh dengan aneka satwa, ada tanah datar yang luas, cocok untuk persawahan. Lama beliau termenung menikmati keindahan pemandangan alami itu. Beliau berpikir, inilah tempat yang sangat sesuai untuk tempat menetap. Jika meneruskan perjalanan, belum juga tentu ke mana arahnya; di samping itu anggota rombongan beliau sudah lelah tinggal berpindah-pindah.
Akhirnya beliau memutuskan menetap di
daerah itu. Di sini beliau membangun pondok-pondok, membuka
sawah-ladang, serta menanam padi, sayur-sayuran, kacang-kacangan, dan
berbagai macam bunga. Tempat itu oleh penduduk dinamakan Pulasari atau
Pulasantun.
Kemudian Ide Bethara Dalem Tarukan
menekuni Dharma Kepanditaan yang menjadi keinginan beliau sejak berada
di Tarukan. Keinginan ini seperti mendarah daging karena leluhur beliau
di Majapahit adalah Brahmana, abiseka Danghyang Kepakisan. Kegiatan
kepanditaan di Pulasari berkembang pesat karena didukung oleh para Dukuh
sekitarnya, misalnya Dukuh Bunga, Dukuh Pantunan, Dukuh Darmaji, dan
lain-lain. Di sela-sela waktu pemujaan, Ide Bethara Dalem Tarukan tetap
bekerja di kebun atau di sawah sebagai selingan dan kesenangan.
Hentikan dulu sejenak, kini diceritakan
keadaan putra Ide Bethara Dalem Tarukan bernama Dewa Bagus Dharma yang
tinggal di Puri Samprangan. Sejak berusia 42 hari beliau ditinggal
ibunda, moksah ke kahyangan. Di saat membutuhkan air susu, datanglah
seekor manjangan putih menyusui beliau dan kemudian menghilang setelah
sang bayi tertidur lelap. Keadaan ini mengherankan seisi Puri, sehingga
yakinlah mereka bahwa sang bayi benar-benar putra seorang bidadari
kahyangan. Ada seorang emban (pembantu) yang sangat setia merawat sang
bayi.
Setelah meningkat usia remaja, Dewa
Bagus Dharma bertanya kepada si-emban, siapa ayah dan ibu beliau.
Si-emban dengan berlinang air mata menceritrakan riwayat Ide Bethara
Dalem Tarukan. Sejenak beliau tercenung lalu berucap bahwa ingin menemui
ayahanda beliau. Si-emban dengan berbisik memberitahu : “pergilah I
Dewa ke arah pegunungan di utara; jika bertemu seorang laki-laki tegap,
tampan, tinggi, berkulit hitam, rambut panjang berombak, tanpa baju,
berkain hitam dengan saput poleng tanpa ujung (seperti kain sarung),
itulah ayahanda I Dewa”
Tidak menunggu waktu lagi, Dewa Bagus
Dharma segera mengambil keris, lalu berangkat ke arah utara. Tekad
beliau sudah mantap; kerinduan bertahun-tahun, haus kasih sayang, dan
“jengah” mendorong beliau segera ingin bertemu dan tinggal bersama
ayahanda baik dalam keadaan suka maupun duka. Berhari-hari beliau
berjalan sambil memperhatikan orang-orang yang ditemuinya. Tidak satu
pun mirip dengan apa yang diceritakan si-emban. Beliau tidak bertanya
kepada siapa pun, karena perjalanan ini dirahasiakan.
Suatu siang yang panas, tibalah Dewa
Bagus Dharma di suatu persawahan yang luas. Hanya ada satu orang di situ
sedang asyik membajak sawah. Beliau duduk dan kaget melihat orang itu
sesuai benar dengan ciri-ciri yang dikatakan si-emban. Hanya saja orang
ini petani; ayahanda yang dicari adalah seorang Raja. Tidak mungkin
seorang Raja membajak sawah. Sedang berpikir-pikir demikian, tiba-tiba
sapi si-“petani” panik lalu lari tunggang langgang. Peralatan bajak yang
ditariknya patah tidak karuan karena sapi-sapi itu mengamuk ingin
melepaskan diri.
Si “petani” heran, kenapa sapinya
tiba-tiba menjadi liar tak terkendali. Pasti ada sesuatu sebab yang
membuat sapinya ketakutan, misalnya harimau. Namun tidak ada harimau di
sekitar itu. Yang ada hanya seorang lelaki remaja dengan sorot mata
polos memandang kegaduhan sapi itu. Si-“petani” yang tiada lain Ide
Bethara Dalem Tarukan, menjadi marah karena mengetahui penyebab sapinya
liar adalah silaki-laki itu. Beliau mendekati remaja itu lalu menghardik
: “eh, apa kerjamu di sini, mengganggu saya serta mengacaukan sapi-sapi
saya”
Sang remaja yang disapa dengan keras itu
juga marah, sehingga timbul percekcokan. Kemarahan makin menjadi-jadi
akhirnya sama-sama menghunus keris berkelahi dengan sengit, saling
pukul, saling tikam, saling cekik, saling tindih, berjam-jam lamanya
tidak ada yang terluka, sampai kehabisan tenaga, sama-sama duduk
bersebelahan. Dalem Tarukan heran karena remaja ini kebal tubuhnya,
ditikam tidak tergores apalagi luka. Beliau lalu bertanya :”hai anak
muda, siapa sebenarnya anda, dari mana, mau ke mana dan apa kerjamu di
tengah hutan ini seorang diri” Dewa Bagus Dharma lalu menjawab :”saya
bernama Dewa Bagus Dharma, dari Puri Samprangan, tiba di hutan ini
hendak mencari ayah saya bernama Ide Dalem Tarukan, yang menurut
informasi tinggal di sekitar daerah ini”
Mendengar itu, Ide Bethara Dalem Tarukan
terkejut bagaikan disambar petir. Dipandangnya wajah pemuda itu; ya
Tuhan, Sanghyang Parama Kawi, wajahnya bagaikan pinang dibelah dua
dengan anakku I Sekar. Beliau tak kuasa membendung air mata haru;
dipeluknya pemuda itu seraya mengusap kepalanya : “anakku Dewa Bagus
Dharma, Ide Sanghyang Parama Kawi maha agung dan maha pemurah, hari ini
aku dipertemukan dengan anak kandungku yang bertahun-tahun aku rindukan;
nanak, ini ayahmu yang kamu cari itu”
Sampai di situ Ide Bethara Dalem Tarukan
tidak lagi berkata-kata; rongga dada beliau sudah penuh sesak dengan
keharuan tiada tara. Tak berbeda dengan Dewa Bagus Dharma, tak kuasa
beliau mengucapkan kata-kata; hanya perkataan :”aji, aji, aji” seraya
mengeratkan pelukannya sambil bersimbah air mata.
Lama kedua insan itu saling melepas kerinduan dan kehangatan ayah-anak sambil menceritrakan riwayat masing-masing. Beberapa saat kemudian datanglah putra-putra Ide Bethara Dalem Tarukan yaitu Gusti Gede Sekar dan Gusti Gede Pulasari bermaksud menjemput ayahanda beliau pulang ke pedukuhan. Ide Bethara Dalem Tarukan dengan gembira mempertemukan ketiga saudara kandung buah hatinya itu. Mereka lalu pulang ke pedukuhan Pulasari dengan suka cita.
Lama kedua insan itu saling melepas kerinduan dan kehangatan ayah-anak sambil menceritrakan riwayat masing-masing. Beberapa saat kemudian datanglah putra-putra Ide Bethara Dalem Tarukan yaitu Gusti Gede Sekar dan Gusti Gede Pulasari bermaksud menjemput ayahanda beliau pulang ke pedukuhan. Ide Bethara Dalem Tarukan dengan gembira mempertemukan ketiga saudara kandung buah hatinya itu. Mereka lalu pulang ke pedukuhan Pulasari dengan suka cita.
Gemparlah
pedukuhan Pulasari atas kedatangan penghuni baru yang tampan seperti
kembarannya Gusti Gede Sekar, namun usianya sedikit lebih dewasa. Malam
hari pertemuan itu dirayakan dengan meriah, makan, minum, menari dan
menyanyi. Ketujuh bersaudara lelaki, putra-putra Ide Bethara Dalem
Tarukan asyik berbincang sampai larut malam. Akhirnya kantuk membawa
mereka ke alam mimpi yang indah. Dewa Bagus Dharma sudah sejak awal
memutuskan tinggal menetap bersama-sama ayah, para ibu dan
saudara-saudaranya di Pulasari.
Kini dilanjutkan dahulu kisah tentang
Kiyai Parembu. Kiyai dengan gigih mentaati perintah Dalem Wayan mengejar
Dalem Tarukan ke hutan-hutan pegunungan sebelah utara. Disertai
putranya bernama Kiyai Wayahan Kutawaringin, pasukan Dulang Mangap
menyelusup menyelidiki dan mencari persembunyian Dalem Tarukan, namun
tidak pernah berhasil. Kadangkala ada yang memberikan informasi lokasi
persembunyian beliau, tetapi ternyata informasinya menyesatkan.
Arah
pencarian Kiyai menuju gunung Tulukbiyu, lalu bertemu dengan Jero Dukuh
Sekar. Ketika ditanya, Jero Dukuh berlaku pikun serta memberi jawaban
sekenanya. Dengan perasaan kesal dan putus asa Kiyai meneruskan
pencariannya tanpa arah yang jelas. Tiba di suatu tempat Kiyai duduk di
bawah pohon tua yang rindang. Perasaan Kiyai tidak menentu : kesal,
malu, merasa tak berharga karena tidak dapat menunaikan tugas, walaupun
sudah diupayakan dengan sekuat tenaga.
Pasukan Dulang Mangap terpecah dua;
sebagian besar sudah kembali ke Gelgel karena mendengar Dalem Ketut
sudah bertahta di Gelgel. Kini pasukannya bersisa empat puluh orang.
Hanya itulah yang masih setia mengikuti, namun sudah ada tanda-tanda
mereka jemu dan kepayahan. Kiyai merenung dan timbul pikirannya yang
terang. Ditanyaillah dirinya sendiri, apa sebenarnya manfaat tugas yang
diembannya bagi kerajaan. Bukankah perintah Dalem Wayan hanya sebuah
perintah emosional yang menuruti kemarahan sesaat ? Di samping itu
berita yang didengar, seolah-olah Dalem Wayan sudah digeser kedudukannya
oleh Dalem Ketut. Lalu untuk siapa kini ia mengabdi ? Tetapi jika
melalaikan tugas bukankah ia sudah banyak berhutang budi kepada Dalem
Wayan ? Kebingungan pikiran Kiyai rupanya diketahui oleh putra dan para
pengikutnya.
Seorang pembantunya memberanikan diri
menyampaikan pendapat sebagai berikut : “ya, paduka Gusti, hamba
mengerti bahwa hati tuan kecewa karena tidak berhasil mencari Dalem
Tarukan. Namun jika tuan berkenan, hamba menghaturkan pendapat bahwa Ida
Sanghyang Widhi Wasa telah melindungi Ide Bethara Dalem Tarukan
sehingga beliau terhindar dari mara bahaya. Hidup dan mati semuanya ada
di tangan-Nya; jika belum diperkenankan, apapun upaya manusia untuk
membunuh sesama manusia tidak akan terlaksana. Oleh karena itu janganlah
paduka menyesali diri terlampau berkepanjangan. Sebaiknya putuskanlah
apa yang akan kita lakukan sekarang”
Mendengar ucapan pembantunya demikian,
mantaplah hati Kiyai Parembu; segera ia bangkit berdiri seraya berkata
:”Hai kamu sekalian, memang benar seperti apa yang dikatakan temanmu
ini; tidak ada yang dapat melawan kehendak Ide Sanghyang Widhi, hanya
Beliau yang kuasa mengatur soal hidup atau mati. Perasaan kita saat ini
sama, yaitu rasa malu yang menusuk hati karena tidak dapat menyelesaikan
tugas. Karenanya aku telah memutuskan tidak kembali ke Gelgel. Kita
menetap di sini saja membuka lembaran sejarah baru; siapa yang setuju
boleh mengikuti saya; yang tidak setuju silahkan kembali ke Gelgel” Para
pengikutnya serempak menjawab setuju. Tidak seorangpun berniat kembali
ke Gelgel. Dengan riang gembira mereka bersama-sama membangun pedesaan
kecil, membuka sawah ladang dan hidup sebagai petani. Desa itu dinamakan
Bugbug Tegeh.
Adanya desa baru cepat tersiar ke
desa-desa sekitarnya. Kiyai Poh Tegeh lalu mengirim utusan mengundang
Kiyai Parembu. Kiyai Parembu merasa khawatir, karena tahu bahwa Kiyai
Poh Tegeh memihak Dalem Tarukan. Semalam suntuk Kiyai Parembu berunding
dengan putranya, Kiyai Wayahan Kutawaringin apakah akan memenuhi
undangan itu atau menolak. Hingga larut malam belum ada keputusan,
sampai keduanya tertidur kelelahan. Kiyai Wayahan Kutawaringin bermimpi
ditemui seorang bidadari yang cantik jelita, bahkan bercengkrama mesra
di sebuah taman yang indah.
Keesokan hari mimpi itu diceritrakannya
kepada sang ayah. “Wah itu pertanda baik, mari kita segera berangkat ke
Poh Tegeh” Menjelang sore mereka berdua tiba di Poh Tegeh, disambut
dengan ramah oleh seorang gadis cantik yang kebetulan melintas di depan
pemedal. Bagaikan dipukul palu godam detak jantung Kiyai Wayahan
Waringin memandang kecantikan gadis itu. Bagaimana mungkin, bidadari
yang diimpikan semalam berwujud persis dia.
Sedang terkesima demikian tiba-tiba
tegur sapa Kiyai Poh Tegeh menyadarkan Kiyai Wayahan Kutawaringin.
“Adinda Kiyai Parembu, betapa bahagianya kakanda hari ini karena dinda
bersedia memenuhi undangan” Kiyai Parembu menjawab : ”ya kakanda,
maafkanlah dinda karena baru kali ini dapat berjumpa; dinda merasa
seperti manusia yang tidak berharga dan tak berguna sehingga kelahiran
dinda sia-sia belaka. Dinda tidak dapat mengemban tugas sebagai seorang
kesatria sejati. Seharusnya dinda bunuh diri saja karena tiada tahan
menanggung malu”
Wajah Kiyai
Parembu sedih memelas; cepat Kiyai Poh Tegeh menjawab :” dinda, Kiyai
Parembu, tidak seorang pun akan menyalahkan serta merendahkan dinda,
karena Ide Bethara Dalem Tarukan dilindungi Sanghyang Widhi. Sadarlah
dinda, beliau berdua kakak beradik bertikai karena diadu domba oleh
pihak lain. Janganlah dinda turut memihak dalam pertikaian itu karena
tidak direstui Yang Maha Kuasa. Sebagai seorang kesatria, ingatlah
selalu riwayat leluhur kita yaitu Sri Jayakata dan Sri Jayawaringin
ketika dilarikan ke Tumapel setelah gugurnya Sri Jayakatong. Bukankah
leluhur Ide Bethara Sri Kresna Kepakisan yang menyelamatkan leluhur kita
? Dan kedatangan leluhur kita ke Bali-pun mengiringi Dalem Sri Kresna
Kepakisan.
Jadi kita harus tetap berbakti kepada
sentanan Dalem Sri Kresna Kepakisan, dalam hal ini baik Dalem Wayan
maupun Dalem Tarukan sama-sama kita hormati. Kini keadaan berubah; Dalem
Ketut sudah memimpin kerajaan. Oleh karena itu untuk apa dinda masih
terus memburu Dalem Tarukan ? Keputusan dinda untuk menetap di Bugbug
Tegeh kanda hargai sebagai suatu keputusan yang bijaksana”
Mendengar wejangan Kiyai Poh Tegeh
seperti itu legalah perasaan Kiyai Parembu. Mereka lalu bersantap malam
dan berbincang-bincang dengan gembira sampai larut malam. Tiba waktunya
tidur, Kiyai Parembu bersama putranya disilahkan menempati ruangan yang
telah disediakan. Sekali lagi Kiyai Wayahan Kutawaringin bertemu pandang
dengan gadis yang sore tadi. Goyah rasanya lutut beliau karena tak
kuasa menahan dentuman api asmara yang melesat dari kerlingan si gadis.
Kiyai Poh Tegeh segera mengenalkan gadis
itu kepada Kiyai Wayahan Kutawaringin seraya berkata : “nanak Winihayu
Luh Toya, ini masih saudara sepupumu bernama Kiyai Wayahan Kutawaringin.
Ini ayahnya bernama Kiyai Parembu” Si gadis mengangguk manja terus
menghilang di balik pintu. Malam itu Kiyai Wayahan tidur gelisah sampai
ayam berkokok menjagakannya. Setelah berpamitan berangkatlah kedua si
ayah dan anak itu pulang ke Bugbug Tegeh. Di perjalanan, Kiyai Wayahan
tiada henti-hentinya berbisik di hati : “dinda Winihayu apakah dinda
merasakan apa yang terpendam di hatiku” Hingga beberapa hari setibanya
di Bugbug Tegeh, Kiyai Wayahan terus saja terkenang pada Winihayu. Hal
ini diketahui oleh ayahnya.
Singkat cerita lama kelamaan diketahui
bahwa Winihayu sama-sama jatuh cinta juga kepada Kiyai Wayahan. Kedua
orang tua-tua lalu berunding, akhirnya terjadilah pernikahan Kiyai
Wayahan Kutawaringin dengan Winihayu Luh Toya. Dari perkawinan ini lahir
dua orang putra yaitu : Kiyai Panida Waringin, meninggal dunia pada
usia muda, dan Kiyai Tabehan Waringin yang kelak di kemudian hari
melanjutkan keturunan warga Arya Kutawaringin. Pernikahan antara Kiyai
Wayahan Kutawaringin dengan Winihayu Luh Toya menyebabkan Kiyai Wayahan
ber-ipar dengan Dalem Tarukan, karena sama-sama menikahi putri-putri
Kiyai Poh Tegeh.
Karena hubungan kekeluargaan inilah
menambah “kemalasan” Kiyai Parembu untuk mengejar Dalem Tarukan.
Patutlah dipuji strategi Kiyai Poh Tegeh yang selalu berupaya
menyelamatkan Dalem Tarukan.
Kembali diceritakan keadaan beliau, Ide
Bethara Dalem Tarukan di desa Pulasari. Tidak ada lagi pasukan yang
mengejar-ngejar beliau, sehingga kehidupan beliau aman tentram. Beliau
meningkatkan ilmu kepanditaan, sampai akhirnya mampu menjadi nabe bagi
para dukuh yang setia mengikuti beliau yaitu : Dukuh Bunga, Dukuh
Pantunan, Dukuh Jatituhu, Dukuh Darmaji, Ki Pasek Bunga, Ki Pasek Daya,
Ki Pasek Jatituhu, Ki Pasek Pemuteran, Ki Pasek Ban, Ki Pasek Penek, dan
Ki Pasek Sikawan.
Kepada para putranya beliau memberikan
bisama sebagai berikut : “Putra-putraku, dengarkanlah bisama yang aku
berikan kepadamu dan segenap keturunanmu kelak di kemudian hari : Jika
kamu meninggal dunia dan diupacarai ngaben (pelebon), dibenarkan kalian
menggunakan busana sesuai dengan tata-cara sebagai seorang Raja beserta
dengan segala upacaranya, paling kecil menggunakan pemereman berupa
padma terawang, atau bade bertumpang tujuh, menggunakan banusa dengan
galar dari bambu kuning, tumpang salu dari bambu kuning, ma-ulon,
ma-jempana, kajang Pulasari, daun pisang kaikik, bale gumi berundak
tujuh, bale silunglung, damar kurung, serta upacara ngaskara
selengkapnya.
Selain itu janganlah menerima panggilan
“cai”, tetapi terimalah panggilan : Jero, Gusti dan Ratu. Bisama ini aku
berikan kepadamu karena kamu adalah keturunanku, keturunan Dalem”
Pemberian bisama itu disaksikan oleh para Dukuh dan para Pasek yang
disebutkan di atas. Mereka menyatakan akan selalu mentaati dan menjaga
terlaksananya bisama itu. Tiada berapa lama setelah memberikan bisama,
Ide Bethara Dalem Tarukan sakit selama tiga bulan lalu meninggal dunia
pada hari Kamis Kliwon, wara Ukir, panglong ping pitu, sasih kedasa,
isaka 1321 atau bila dengan kalender Masehi, pada hari Kamis, bulan
April tahun 1399 M. Jika diperkirakan beliau lahir pada tahun 1352 M
(dua tahun setelah ayahanda : Dalem Sri Kresna Kepakisan menjadi Raja
Samprangan) maka Ide Bethara Dalem Tarukan meninggal dunia pada usia 47
tahun.
Upacara pelebon Ide Bethara Dalem
Tarukan dilaksanakan di setra Tampuwagan pada hari Sabtu, Pahing, wuku
Warigadean, panglong ping pitu, sasih Jiyesta, rah tunggal, tenggek
kalih, isaka 1321, atau bila dengan kalender Masehi, pada hari Sabtu,
bulan Juni tahun 1399 M. Manggala dan pemuput karya upacara pelebon
adalah : Dukuh Bunga, Dukuh Pantunan, Dukuh Jatituhu, Kiyai Poh Tegeh,
Ki Pasek Pemuteran, Ki Pasek Penek, Ki Pasek Temangkung, Ki Pasek Ban,
Ki Pasek Sikawan, Ki Pasek Bunga, Ki Pasek Jatituhu, dan I Gusti Ngurah
Kubakal.
Tata laksana pelebon sebagai Raja, yaitu
: pemereman bade tumpang pitu, petulangan lembu nandaka ireng
ditempatkan dengan kepala di arah Barat, tirta pemuput dari Besakih,
sulut pembakaran memakai keloping nyuh gading, kayu bakar memakai kayu
cendana. Setelah itu abu tulang dihanyutkan di sungai Congkang. Sebulan
kemudian diadakan upacara meligia di mana abu “sekah” dipendem di
cungkup sebuah Pura yang dibangun sebagai Pedarman Ide Bethara Dalem
Tarukan. Berhubung sudah disucikan sebagai Bethara Raja Dewata, maka
sejak saat meligia itu beliau amari aran (berganti gelar) menjadi : Ide
Bethara Dalem Tampuwagan Mutering Jagat.
Selama berlangsungnya upacara pelebon
dan meligia, tiada henti-hentinya seluruh rakyat pegunungan mulai dari
perbatasan barat : Bondalem (Buleleng), perbatasan timur : Tianyar
(Karangasem), perbatasan selatan : Pantunan (Bangli) menghaturkan uang
kepeng bolong dan bahan-bahan “lebeng-matah” sebagai tanda bakti, setia,
hormat, dan duka cita karena ditinggalkan junjungan mereka. Aturan
berupa makanan langsung disantap oleh para putra, para Ibu, keluarga,
serta semua yang hadir. Karena terlalu banyak sampai tidak habis
dimakan, dibiarkan membusuk sehingga menimbulkan bau tidak sedap.
Setelah semua rangkaian upacara selesai,
bau busuk dari sisa-sia makanan, beras, uang kepeng bolong dan
lain-lain makin menjadi-jadi, tidak tahan menciumnya. Para putra lalu
memerintahkan rakyatnya membuang ke sungai, sampai air sungai itu
berubah seperti bubur. Uang kepeng bolong yang dihanyutkan menyangkut
menutupi sumber mata air sungai. Rakyat yang tinggal di hilir
terheran-heran melihat air sungai berubah seperti bubur; banyak yang
mengambil nasi, tumpeng, beras itu untuk diberi makan anjing atau babi.
Di sungai lainnya rakyat menemukan uang
kepeng bolong yang sudah bergumpal-gumpal berkarat tidak bisa digunakan
lagi. Ide Bethara di sorga loka melihat dengan sedih kejadian itu.
Turunlah kutukan beliau sebagai berikut : “Wahai para putraku, kalian
telah menyia-nyiakan anugerah dewata; maka kini terimalah kutukanku,
mudah-mudahan kalian seketurunan tidak akan menjadi kaya atau
berkecukupan. Bila ada yang bisa kaya, umurnya pendek lalu kematian
menjemput sehingga keturunannya menjadi miskin kembali” Para putra yang
mendengar kutukan itu kebingungan dan menyesali perbuatannya, namun apa
hendak dikata karena itulah kehendak Ide Sanghyang Widhi Wasa. Dengan
perasaan tak menentu para putra kembali ke pedukuhan Pulasari memulai
hidup baru.
Aliran sungai yang berlimpah bubur dan
uang kepeng bolong itu menuju ke Kerajaan Suwecapura. Rakyat gempar
berhari-hari, lalu menamakan kedua sungai itu masing-masing : Tukad
Bubuh dan Tukad Jinah. Berita ini sampai ke istana Dalem Ketut (Dalem
Sri Semara Kepakisan). Tahulah beliau bahwa kakak beliau telah meninggal
dunia dan di pelebon di pegunungan. Sedih hati beliau mengenang nasib
Ide Bethara Raja Dewata yang sebahagian besar hidupnya dihabiskan di
pengungsian. Beliau Dalem Ketut ingin memelihara putra-putra Ide Bethara
Raja Dewata yang jelas masih kemenakannya sendiri.
Keesokan harinya dipanggillah Kiyai
Kebon Tubuh lalu ditugaskan menjemput para kemenakan beliau itu ke
hutan-hutan di pegunungan untuk diajak ke Gelgel. Disertai pengikut 50
orang, berangkatlah Kiyai Kebon Tubuh menuju utara. Setelah menempuh
perjalanan berhari-hari, sampailah Kiyai di pedukuhan Pulasari. Kiyai
berdatang sembah kepada para putra : “Mohon ampun, paduka para putra
Dalem, hamba diutus oleh Paman paduka, Sri Aji Semara Kepakisan untuk
menjemput paduka sekalian diajak pulang ke istana Suwecapura”
Para putra yang dipimpin oleh putra
tertua : Dewa Bagus Dharma ragu-ragu pada kebenaran maksud baik dari
ucapan sang Kiyai. Bertahun-tahun para putra menghadapi kenyataan bahwa
ayahanda beliau dimusuhi oleh saudara sekandung beserta menteri dan
rakyat kerajaan, kini tiba-tiba ada utusan yang bernada membujuk
menjanjikan kebaikan budi. Bukankah ini suatu perangkap untuk
mencelakakan para putra sehingga jika dapat, agar musnahlah keturunan
Ide Bethara Raja Dewata.
Berpikir demikian, Dewa Bagus Dharma
kemudian menolak permintaan sang Kiyai seraya menyatakan bahwa beliau
beserta adik-adik tidak akan meninggalkan pedukuhan Pulasari. Kiyai
Kebon Tubuh tidak berhasil membujuk para putra, lalu kembali ke istana
Suwecapura. Betapa duka hati Dalem Ketut mendengar laporan Kiyai Kebon
Tubuh; dimintanya Kiayi mengulangi kunjungan ke Pulasari membujuk para
putra agar mau pulang ke Suwecapura.
Walaupun sampai tiga kali utusan ini
pulang balik, para putra tetap tidak mau datang ke Suwecapura. Ini
menimbulkan kemarahan Dalem Ketut, sehingga keluarlah perintah beliau
untuk menangkap para kemenakan beliau dibawa paksa pulang ke Suwecapura.
Kiyai Kebon Tubuh lalu mengerahkan prajurit dalam jumlah besar dengan
persenjataan lengkap. Tidak kurang dari 2000 prajurit dibawa serta,
namun bukan dari pasukan Dulang Mangap.
Sementara itu pihak para putra yang
dipimpin oleh Dewa Bagus Dharma telah mengetahui gerakan musuh yang
menjalar bagaikan ular besar dari arah selatan. Kakek beliau, I Gusti
Poh Tegeh bersama kerabatnya yaitu I Gusti Ngurah Kubakal mempersiapkan
pertahanan rakyat di desa Pesaban, Tembuku, dan Timuhun. Perang besar
yang tidak seimbang berkecamuk dengan dahsyat, membawa korban banyak di
pihak pasukan I Gusti Poh Tegeh. Dapat dimaklumi karena pasukan ini
bukan prajurit terlatih, hanya bermodalkan semangat dan kesetiaan yang
tinggi kepada ratunya. Mayat-mayat yang jatuh ke sungai hanyut ke hilir
akhirnya sampai ke perbatasan kota Gelgel.
Dalem Ketut mendengar berita banyaknya
korban rakyat biasa dalam peperangan di pegunungan. Beliau lalu
memerintahkan menghentikan peperangan dan menarik pasukan Kiyai Kebon
Tubuh kembali ke Gelgel. Dalem Ketut menulis surat kepada I Gusti Poh
Tegeh dibawa oleh utusan beliau, sekali lagi Kiyai Kebon Tubuh bersama
seorang Bendesa. Surat itu diterima oleh I Gusti Poh Tegeh lalu dibaca
di hadapan I Gusti Ngurah Kubakal, dan I Gusti Ngurah Puajang : “Wahai
kamu sekalian para Pasek di pegunungan, serahkanlah para kemenakanku itu
untuk aku asuh di Gelgel, semata-mata karena belas kasihanku dan
kerinduan serta keinginanku untuk memelihara mereka sebagaimana layaknya
para ratu keturunan Dalem; peperangan hanya akan merugikan kita sendiri
karena banyak rakyat yang menjadi korban”
I Gusti Poh Tegeh berkata bahwa beliau
masih akan membicarakan hal ini kepada para putra, dan sementara agar
Kiyai Kebon Tubuh pulang lebih dahulu ke Gelgel; mungkin beberapa hari
lagi beliau akan menyusul mengantarkan para putra ke Gelgel. Gusti Poh
Tegeh ingin memenuhi perintah Dalem Ketut karena berpendapat bahwa
maksud Dalem Ketut sungguh-sungguh baik, namun perlu beberapa hari untuk
meyakinkan pendapatnya kepada para putra, terutama Dewa Bagus Dharma
sebagai putra tertua.
Sepulangnya Kiyai Kebon Tubuh, Gusti Poh
Tegeh memanggil para putra Ide Bethara Dalem Tampuwagan (d.h. Ide
Bethara Dalem Tarukan) seraya menyampaikan isi surat Dalem Ketut. Para
putra belum sanggup memberi persetujuan hari itu karena masih merasa
khawatir akan masa depan mereka di Gelgel sementara mereka sudah betah
dan berbahagia tinggal di pegunungan. Gusti Poh Tegeh mempersilahkan
para putra untuk berpikir beberapa hari agar mendapat pertimbangan yang
matang sebelum mengambil keputusan.
Namun tiba-tiba tanpa diduga sama sekali
datanglah gelombang serangan yang dahsyat dari para Manca Badung
dipimpin oleh I Gusti Gede Kaler disertai Arya Kenceng, Ngurah Mambal,
Ngurah Menguwi, dan I Gusti Ngurah Telabah. Gerakan ini sangat
mengejutkan dan mengherankan para tokoh pegunungan seperti Gusti Poh
Tegeh serta para kerabatnya. Beliau cepat berpikir bahwa gerakan ini
bukan perintah Dalem Ketut, melainkan gerakan para arya yang merasa
khawatir bila para putra Dalem Tampuwagan kembali ke Gelgel pasti akan
diberi kedudukan sebagai Manca yang akan berakibat kedudukan mereka
tergeser.
Jadi tujuan serangan kali ini adalah membunuh para putra. Naluri jiwa kesatria Gusti Poh Tegeh bangkit lalu bersama para kerabatnya memimpin perang mempertahankan dan melindungi para putra. Perang berkecamuk seru berhari-hari, namun segera terlihat kekuatan yang tidak seimbang. Pasukan bertahan yang dipimpin I Gusti Agung Bekung bersama Dewa Bagus Dharma dipukul mundur meninggalkan mayat prajurit sekitar 5000 orang.
Jadi tujuan serangan kali ini adalah membunuh para putra. Naluri jiwa kesatria Gusti Poh Tegeh bangkit lalu bersama para kerabatnya memimpin perang mempertahankan dan melindungi para putra. Perang berkecamuk seru berhari-hari, namun segera terlihat kekuatan yang tidak seimbang. Pasukan bertahan yang dipimpin I Gusti Agung Bekung bersama Dewa Bagus Dharma dipukul mundur meninggalkan mayat prajurit sekitar 5000 orang.
Pada suatu pagi hari di saat hujan
rintik-rintik dan matahari baru bersinar terang-terang tanah gugurlah
Dewa Bagus Dharma, putra tercinta Ide Bethara Dalem Tampuwagan. Para
Kakek, adik-adik beliau serta seluruh rakyat pegunungan berduka cita
sedalam-dalamnya. Beliau sebenarnya mempunyai ilmu kekebalan tubuh
pembawaan sejak lahir, namun di saat fajar kekebalan itu sirna
sementara; rupanya kelemahan ini diketahui musuh. Beliau direbut
berpuluh-puluh prajurit I Gusti Gede Kaler di saat fajar. Tempat
gugurnya diberi nama Siang Kangin. Di situ pula layon beliau
diupacarakan dan distanakan pada pelinggih yang dibangun, selanjutnya
dinamakan Pura Siang Kangin.
Sejak gugurnya Ide Bethara Siang Kangin,
rakyat pegunungan menderita kekalahan terus-menerus dalam peperangan.
Untuk mencegah korban yang lebih banyak maka para pemimpin rakyat
pegunungan berunding lalu mengambil keputusan untuk menyelamatkan para
putra Ide Bethara Dalem Tampuwagan.
Cara menyelamatkan para putra disepakati sebagai berikut : Gusti Gede Sekar dan Gusti Gede Pulasari diiringi ibunda beliau Gusti Luh Puwaji beserta empat orang saudaranya ke Puri Gelgel meminta perlindungan Dalem Ketut. Gusti Gede Bandem pergi ke Desa Keling (Karangasem). Gusti Gede Belayu berangkat kearah Tabanan, menetap di suatu tempat yang kini bernama Desa Belayu. Gusti Gede Balangan menetap di Desa Pantunan atas jaminan keselamatan dari Gusti Agung Pasek Gelgel. Gusti Gede Dangin atas permintaan beliau, tidak mau turut ke Gelgel, lalu berangkat menuju daerah Den Bukit (Buleleng) diiringi rakyat 12 orang, menuju Desa Sudaji. Demikianlah keenam bersaudara itu berpisah menuju tempatnya masing-masing. Sedih dan pilu hati mereka karena harus berpisah dan meninggalkan kampung halaman, namun pasrah menyerahkan nasibnya kepada Ide Sanghyang Widhi Wasa.
Cara menyelamatkan para putra disepakati sebagai berikut : Gusti Gede Sekar dan Gusti Gede Pulasari diiringi ibunda beliau Gusti Luh Puwaji beserta empat orang saudaranya ke Puri Gelgel meminta perlindungan Dalem Ketut. Gusti Gede Bandem pergi ke Desa Keling (Karangasem). Gusti Gede Belayu berangkat kearah Tabanan, menetap di suatu tempat yang kini bernama Desa Belayu. Gusti Gede Balangan menetap di Desa Pantunan atas jaminan keselamatan dari Gusti Agung Pasek Gelgel. Gusti Gede Dangin atas permintaan beliau, tidak mau turut ke Gelgel, lalu berangkat menuju daerah Den Bukit (Buleleng) diiringi rakyat 12 orang, menuju Desa Sudaji. Demikianlah keenam bersaudara itu berpisah menuju tempatnya masing-masing. Sedih dan pilu hati mereka karena harus berpisah dan meninggalkan kampung halaman, namun pasrah menyerahkan nasibnya kepada Ide Sanghyang Widhi Wasa.
Setibanya Gusti Gede Sekar dan Gusti
Gede Pulasari di Puri Gelgel, langsung menghadap Dalem Ketut Sri Semara
Kepakisan. Betapa gembiranya Dalem Ketut menerima kemenakan-kemenakan
beliau, namun terasa agak kecewa karena tidak semua kemenakannya mau
hadir. Tetapi akhirnya beliau maklum setelah mendapat penjelasan dari
Gusti Agung Pasek Gelgel bahwa keputusan untuk menuju tempat
masing-masing sudah dipertimbangkan dengan baik. Dalem Ketut kemudian
memberikan penugrahan kepada para kemenakannya sebagai berikut :
“Kemenakanku semua, janganlah kalian
menyamai (memadai) kedudukanku, karena kalian keturunan Kesatria yang
telah diturunkan wangsanya dan kini menjadi Wesia Dalem. Sebab-sebab
diturunkan wangsamu karena peristiwa di Puri Tarukan yang melibatkan
kakakku Ide Bethara Dalem Tampuwagan. Di kemudian hari bila kalian dan
keturunanmu melaksanakan upacara pelebon dibolehkan menggunakan
tata-cara seorang Raja karena kalian masih menjadi satu keturunan
denganku. Cuntaka hanya tiga malam sebagaimana halnya wangsa Brahmana,
Kesatria (para Ratu). Setelah cuntaka habis segeralah mebersih di mata
air selanjutnya ngayab banten pebersihan; setelah itu barulah kembali
kesucianmu. Jika kalian berani menyamai kedudukanku, akan kukutuk kalian
tiga kali. Hal lain yang harus kalian ingat, janganlah melupakan
Pura-pura kahyangan jagat di seluruh Bali, serta janganlah mensia-siakan
para Pendeta/Sulinggih dan orang-orang suci agar jagat Bali selalu
trepti. Janganlah kalian melakukan hubungan suami istri di luar
pernikahan karena perbuatan itu akan membawa kehancuran sehingga
orang-orang Bali tidak lagi bersatu. Peringatan-peringatanku ini berlaku
seterusnya sampai ke anak cucu keturunanmu selanjutnya. Bila ada yang
melanggar mudah-mudahan menemui bencana dalam hidupnya”
Setelah berlalu beberapa masa, datanglah
seorang keturunan Ide Bethara Hyang Genijaya dari Majapahit bernama
Sangkul Putih bersama istri dan para putranya. Beliau mendarat di Padang
lalu langsung ke Puri Gelgel menghadap Dalem Ketut. Bertepatan saat itu
Ide Dalem Ketut sedang memberikan penugrahan kepada para putra Ide
Bethara Dalem Tampuwagan yang kali ini hadir secara lengkap yaitu :
Gusti Gede Sekar, Gusti Gede Pulasari, Gusti Gede Bandem, Gusti Gede
Belayu, Gusti Gede Balangan, dan Gusti Gede Dangin, sehingga Sangkul
Putih turut mendengarkan wejangan beliau sebagai berikut: “Wahai para
kemenakanku semua, kini lanjutkan penugrahan yang telah kuberikan
beberapa waktu yang lalu sebagai berikut : Jika kalian memahami tentang
kemoksan seharusnya kalian menjadi seorang Sulinggih karena kalian
adalah seketurunan denganku yaitu keturunan Brahmana.
Oleh karena itu pula kalian harus selalu
berbakti di Kahyangan Brahmana di Tolangkir (Besakih) jangan melewatkan
upacara-upacara di sana sekalipun. Jika kalian melupakan, kukutuk
kalian menjadi orang Sudra dan kalian tidak lagi menjadi seketurunan
denganku. Demikian juga kalian harus berbakti di Kahyangan Ide Bethara
Hyang Genijaya yang ada di Lempuyang dan di Tolangkir sesuai sabda Ide
Bethara Brahma. Jika kalian melalaikan peringatanku ini mudah-mudahan
hidupmu susah senantiasa kekurangan, kesasar tidak menemukan arah hidup.
Kalian adalah keturunan Brahmana, maka bila meninggal dunia, layon
harus dibungkus oleh daun muda pisang gedang Kaikik sebab ketika leluhur
kita lahir beliau dialasi oleh daun muda pisang gedang Kaikik. Jika
tidak demikian kalian dan keturunan kalian bukan warih Dalem.
Selanjutnya beliau Dalem Ketut bersabda :
“Apa yang aku anugrahkan kepadamu tadi dan selanjutnya ini adalah wahyu
dari Ide Bethara Hyang Genijaya yang berstana di Lempuyang. Kalian para
kemenakanku, janganlah lupa memuja dan memohon anugrah kepada Ide
Bethara di Penataran Agung, Tolangkir, juga kepada I Ratu Pande, I Ratu
Gede Penyarikan, serta nuntun para arwah leluhurmu untuk distanakan di
tempat keturunanmu. Taatlah melaksanakan kedharmaan, jangan menentang
peraturan-peraturan. Diantara keturunan-keturunanmu janganlah satu sama
lain tiada mengakui bersaudara, paling tidak mengaku memisan atau
memindon. Di mana pun kamu berada tetaplah mengaku bersaudara; jika lupa
atau tidak mengakui saudara, mudah-mudahan kamu kehilangan “soda” yaitu
selalu kekurangan makanan dan minuman.
Beberapa waktu kemudian, Ide Dalem Ketut
kembali mengumpulkan para kemenakan beliau (putra-putra Ide Bethara
Dalem Tampuwagan) lalu meneruskan penugrahan yang diterima dari para
putra-putri Sanghyang Pasupati yaitu Ide Bethara Mahadewa yang berstana
di Tolangkir dan adik beliau Ide Bethari Dewi Danu yang berstana di
Danau Batur sebagai berikut : Apabila diantara kalian atau keturunanmu
di kemudian hari ada yang mampu Madwijati, diperkenankan pada upacara
pelebon menggunakan padma trawang, pisang gedang kaikik, gamet (kapas),
kesumba, serta bertingkat 5 (nista), 7 dan 9 (madia), dan 11 (utama).
Itu adalah demi kesejahteraanmu. Jika
mayat kalian dibakar, cuntake hanya 3 (tiga) malam; jika ditanam 7
(tujuh) malam; Jika mayat kalian dibakar, harus dilakukan upacara ngeleb
awu ke segara/sungai disertai upacara ngirim; jika dilalaikan,
mudah-mudahan kamu menjadi manusia yang derajatnya paling rendah karena
tidak membela kewangsaan serta tidak mengenal kawitan.
Selanjutnya Dalem Ketut bersabda :
“Kalian kemenakanku, walaupun kalian telah disurud wangsakan, namun
kalian masih aku anugerahi hak-hak sebagai berikut : seketurunan kalian
tidak kena kewajiban-kewajiban/pungutan (pajak), tidak kena pejah
pajungan (hukuman mati), tidak kena cecangkriman (pembuangan), tidak
kena ambungan (hukuman cambuk), tidak kena sasarandana (pungutan adat),
tidak kena pepanjingan (larangan masuk ke suatu wilayah), tidak kena
pecatuan (yuran di Pura), tidak kena perintah. Para penguasa di daerah
yaitu Manca dan Punggawa diberitahu semua penugrahan Ide Bethara Dalem
Ketut tersebut untuk ditaati dan diindahkan, ditambah lagi penekanan
agar mereka senantiasa menghormati para kemenakan beliau seketurunan.
Apabila ada yang berani menentang atau tidak melaksanakan, mudah-mudahan
hilang kesaktiannya dan luntur kewibawaannya.
Beberapa waktu kemudian Ide Dalem Ketut
memberikan tambahan wejangan setelah mendapat wahyu dari Ide Bethara
Brahma : “Jika kalian dan keturunanmu meninggal, kalian harus memohon
melalui Sangkulputih tirta Yeh-Tunggang dari Gunung Agung sebagai tirta
pengentas. Oleh karena itu kawitan serta semua arwah leluhurmu berstana
di Gunung Agung (Tolangkir) sehingga kamu wajib berbakti kepada kawitan
dan arwah leluhurmu di Pedarmaan Besakih.
Bila ada keturunanmu yang sudah mebersih
wenang naik-turun di pelinggih-pelinggih di Tolangkir dalam upacara
yadnya. Bila ada keturunanmu yang mampu Madwijati/Madiksa, wenang
mengajarkan ilmu, sastra dan kedharmaan kepada saudara-saudaranya
sehingga menjadi orang-orang yang terhormat serta diikuti
petunjuk-petunjuknya oleh orang lain. Jika semuanya kalian taati dan
laksanakan dengan kokoh dan tekun, mudah-mudahan kalian dapat mencapai
moksah.
Selain memberikan penugrahan di bidang agama dan kedharmaan, Ide Dalem Ketut juga memberikan “Mantri sesana” yaitu tata susila sebagai pejabat yang bertugas dan berkedudukan sebagai berikut : I Gusti Gede Sekar sebagai Manca di Nongan diberikan tanah kebun 15 sikut disertai Ibunda beliau Ni Gusti Luh Puaji. I Gusti Gede Pulasari kembali ke Pulasari sebagai Dukuh menguasai pedukuhan Pulasari (Bunga), Tampuwagan, Peninjoan, Karang-suwung, dan Manikaji. I Gusti Gede Bandem di beri kedudukan sebagai Manca di Nagasari, meliputi : Tihingan, Kayuputih, Uma-anyar, dan Bangkang. I Gusti Gede Belayu diangkat sebagai Manca di Ogang, meliputi : Semseman, Mijil, Sanggem, Sangkan Gunung, Pakel dan Sangkungan. I Gusti Gede Balangan tetap tinggal di istana Gelgel. I Gusti Gede Dangin kembali ke Sudaji.
Selain memberikan penugrahan di bidang agama dan kedharmaan, Ide Dalem Ketut juga memberikan “Mantri sesana” yaitu tata susila sebagai pejabat yang bertugas dan berkedudukan sebagai berikut : I Gusti Gede Sekar sebagai Manca di Nongan diberikan tanah kebun 15 sikut disertai Ibunda beliau Ni Gusti Luh Puaji. I Gusti Gede Pulasari kembali ke Pulasari sebagai Dukuh menguasai pedukuhan Pulasari (Bunga), Tampuwagan, Peninjoan, Karang-suwung, dan Manikaji. I Gusti Gede Bandem di beri kedudukan sebagai Manca di Nagasari, meliputi : Tihingan, Kayuputih, Uma-anyar, dan Bangkang. I Gusti Gede Belayu diangkat sebagai Manca di Ogang, meliputi : Semseman, Mijil, Sanggem, Sangkan Gunung, Pakel dan Sangkungan. I Gusti Gede Balangan tetap tinggal di istana Gelgel. I Gusti Gede Dangin kembali ke Sudaji.
Kecuali I Gusti Gede Dangin, semua putra
Ide Bethara Dalem Tampuwagan diberikan pamancanggah yang memuat
penugrahan tersebut di atas ditambah dengan gambar rerajahan rurub
kajang dan rerajahan daun pisang Kaikik selengkapnya. Pamancanggah itu
disahkan dan diumumkan oleh Ide Dalem Ketut pada Hari Kamis, Umanis,
wuku Ukir, panglong ping 13 (telulas) sasih Kapat, Isaka 1339 (1417 M).
Pamancanggah itu diupacarai/dipasupati sebagaimana mestinya. Sesampainya
di tempat kedudukan masing-masing, para putra Ide Bethara Dalem
Tampuwagan menempatkannya di pelinggih pemerajan dan dipuja oleh
seketurunan beliau-beliau. Bila ada yang mengabaikan kewajiban memuja
dan mentaati pamancanggah itu mudah-mudahan dikutuk oleh Ide Bethara
Kawitan.
Silsilah Ide Bethara Dalem Tarukan.
Sanghyang Pasupati berputra :
1. Bhatara Hyang Gnijaya
2. Bhatara Hyang Putranjaya
3. Bhatari Dewi Danuh
4. Bhatara Hyang Tugu
5. Bhatara Hyang Manikgalang
6. Bhatara Hyang Manikgumawang
7. Bhatara Hyang Tumuwuh
1. Bhatara Hyang Gnijaya
2. Bhatara Hyang Putranjaya
3. Bhatari Dewi Danuh
4. Bhatara Hyang Tugu
5. Bhatara Hyang Manikgalang
6. Bhatara Hyang Manikgumawang
7. Bhatara Hyang Tumuwuh
Bhatara Hyang Gnijaya berputra Mpu Withadharma (Sri Mahadewa)
Mpu Withadharma berputra :
1. Mpu Bhajrasattwa (Mpu Wiradharma)
2. Mpu Dwijendra (Mpu Rajakretha)
1. Mpu Bhajrasattwa (Mpu Wiradharma)
2. Mpu Dwijendra (Mpu Rajakretha)
Mpu Bhajrasattwa berputra : Mpu Tanuhun (Mpu Lampita)
Mpu Tanuhun berputra :
1. Mpu Gnijaya
2. Mpu Sumeru (Mpu Mahameru)
3. Mpu Ghana
4. Mpu Kuturan (Mpu Rajakretha)
5. Mpu Bharadah (Mpu Pradah)
1. Mpu Gnijaya
2. Mpu Sumeru (Mpu Mahameru)
3. Mpu Ghana
4. Mpu Kuturan (Mpu Rajakretha)
5. Mpu Bharadah (Mpu Pradah)
Mpu Bharadah berputra :
1. Mpu Siwagandu
2. Ni Dyah Widawati
3. Mpu Bahula
1. Mpu Siwagandu
2. Ni Dyah Widawati
3. Mpu Bahula
Mpu Bahula berputra :
1. Mpu Tantular (Mpu Wiranatha)
2. Ni Dewi Dwararika
3. Ni Dewi Adnyani
4. Ni Dewi Amerthajiwa
5. Ni Dewi Amerthamanggali
1. Mpu Tantular (Mpu Wiranatha)
2. Ni Dewi Dwararika
3. Ni Dewi Adnyani
4. Ni Dewi Amerthajiwa
5. Ni Dewi Amerthamanggali
Mpu Tantular berputra :
1. Danghyang Kepakisan
2. Danghyang Smaranatha
3. Danghyang Sidhimantra
4. Danghyang Panawasikan
1. Danghyang Kepakisan
2. Danghyang Smaranatha
3. Danghyang Sidhimantra
4. Danghyang Panawasikan
Danghyang Kepakisan berputra : Sri Soma Kepakisan
Sri Soma Kepakisan berputra :
1. Sri Juru (Dalem Blambangan)
2. Sri Bhima Sakti (Dalem Pasuruan)
3. Sri Kepakisan (Dalem Sumbawa)
4. Sri Kresna Kepakisan (Dalem Bali)
1. Sri Juru (Dalem Blambangan)
2. Sri Bhima Sakti (Dalem Pasuruan)
3. Sri Kepakisan (Dalem Sumbawa)
4. Sri Kresna Kepakisan (Dalem Bali)
Sri Kresna Kepakisan berputra :
1. Dalem Samprangan
2. Dalem Tarukan
3. Dewa Ayu Wana
4. Dalem Sri Smara Kepakisan
5. Dewa Tegal Besung
1. Dalem Samprangan
2. Dalem Tarukan
3. Dewa Ayu Wana
4. Dalem Sri Smara Kepakisan
5. Dewa Tegal Besung
Mpu Tanuhun (Mpu Lampita) berputra lima,
yaitu Mpu Gnijaya, Mpu Sumeru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan, dan Mpu
Bharadah. Kelimanya disebut Panca Tirta. Mpu Gnijaya menurunkan Sapta
Rsi yaitu : Mpu Ketek, Mpu Kananda, Mpu Wiradnyana, Mpu Withadharma, Mpu
Ragarunting, Mpu Preteka, dan Mpu Dangka.
Beliau bertujuh selanjutnya, lama-kelamaan menurunkan Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi. Saudara bungsu Mpu Gnijaya yaitu Mpu Bharadah lama-kelamaan menurunkan Para Gotra Sentana Dalem Tarukan atau dikenal sebagai warga Pulasari.
Beliau bertujuh selanjutnya, lama-kelamaan menurunkan Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi. Saudara bungsu Mpu Gnijaya yaitu Mpu Bharadah lama-kelamaan menurunkan Para Gotra Sentana Dalem Tarukan atau dikenal sebagai warga Pulasari.
Adanya tali kekeluargaan seperti itulah
yang disadari oleh warga Pasek di pegunungan di saat beliau-beliau
membantu dan menyelamatkan Ide Bethara Dalem Tarukan di pengungsian
sebagaimana telah diuraikan di muka. Patutlah warga Pulasari berhutang
budi kepada warga Pasek. Kesadaran ini pula yang mungkin mendasari ide
pembangunan Pura Pusat Pulasari berdampingan dengan Pura Pasek.
Di Gelgel, semasa pemerintahan Ide
Bethara Dalem Semara Kepakisan dibangun pula Pura Dasar Bhuwana yang
disungsung oleh warga keturunan Ide Bethara Dalem Sri Kresna Kepakisan,
Ide Bethara Mpu Gnijaya (Pasek Sanak Sapta Rsi), dan keturunan Ide
Bethara Mpu Saguna (Maha Smaya Warga Pande). Lama-kelamaan, disungsung
pula oleh seluruh rakyat Bali, mengingat di Pura Dasar Bhuwana
distanakan Raja (Dalem) pertama di Bali.
“Kepakisan” asal katanya “Pakis” berarti
Paku. Gelar Kepakisan diberikan kepada Brahmana yang ditugasi sebagai
Raja (Dalem) atau Kesatria. Gelar Kepakisan yang diberikan kepada
Kesatria adalah : Sira-Arya Kepakisan. Beliau adalah keturunan Sri
Jayasabha, berasal dari keturunan Maha Raja Airlangga, Raja Kahuripan
(Jawa). Gelar “Paku” di Jawa pertama kali digunakan oleh Susuhunan
Kartasura : Paku Buwono I pada tahun 1706 M.
Di Bali gelar “Pasek” yang berasal dari
perkataan “Pacek”(= paku) pertama kali digunakan oleh Arya Kepasekan,
yaitu putra Mpu Ketek yang termasuk kelompok Sapta Rsi. Ada juga warga
Pasek yang di luar kelompok Sapta Rsi, yaitu keturunan dari Mpu Sumeru
yang berputra Mpu Kamareka, selanjutnya menurunkan warga Pasek Kayu
Selem, Pasek Celagi, Pasek Tarunyan, dan Pasek Kayuan. Beliau-beliau
juga sangat besar jasanya menyelamatkan Ide Bethara Dalem Tarukan.
Kesimpulannya bahwa gelar : Kepakisan,
Paku, Pasek bermakna dan berderajat sama yaitu sebagai fungsi kekuasaan
atau pemimpin di suatu wilayah tertentu atau pemimpin suatu
penugasan/jabatan tertentu yang didelegasikan oleh Dalem ( Kaisar = Maha
Raja, atau Raja)
SUMBER:
www.babadbali.com
https://dianputra.wordpress.com/2008/04/27/silsilah-sentana-dalem-tarukan/
No comments:
Post a Comment